Artikel Kesehatan

Vasektomi vs KB Wanita: Mana yang Lebih Aman dan Efektif?

Promosi Kesehatan (Olivya Esther Raphyta Rajagukguk)

2026-08-14

129

Vasektomi vs KB Wanita: Mana yang Lebih Aman dan Efektif?

Ketika membicarakan kontrasepsi dan program keluarga berencana (KB), banyak orang mungkin langsung memikirkan metode yang digunakan oleh wanita, seperti pil KB, suntik, implan, atau intrauterine device (IUD).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017, lebih dari separuh wanita berstatus kawin di Indonesia menggunakan suatu metode kontrasepsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi masih banyak dilakukan oleh wanita (Badan Pusat Statistik et al., 2018).

Padahal, perencanaan keluarga merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri. Pria juga memiliki pilihan kontrasepsi, terutama kondom dan vasektomi. WHO juga mendorong keterlibatan pria dan pengambilan keputusan bersama dalam penggunaan kontrasepsi.

Salah satu metode kontrasepsi pria yang sangat efektif adalah vasektomi. Namun, bagaimana keamanan dan efektivitas vasektomi jika dibandingkan dengan metode KB yang digunakan wanita?

Apa Itu Vasektomi?

Vasektomi adalah metode kontrasepsi permanen pada pria yang dilakukan dengan memutus atau menutup saluran sperma (vas deferens) sehingga sperma tidak masuk ke dalam cairan semen saat ejakulasi.

Vasektomi merupakan prosedur bedah minor yang umumnya dilakukan dengan anestesi lokal dan pasien biasanya dapat pulang pada hari yang sama.

Tindakan ini tidak mengangkat testis dan tidak menghentikan produksi hormon testosteron. Oleh karena itu, vasektomi tidak menghilangkan kemampuan ereksi, orgasme, maupun gairah seksual. Cairan semen juga tetap keluar ketika ejakulasi, tetapi setelah vasektomi dinyatakan berhasil, cairan tersebut tidak lagi mengandung sperma dalam jumlah yang dapat menyebabkan kehamilan.

Apakah Vasektomi Langsung Efektif?

Tidak.

Setelah tindakan, masih terdapat sperma yang tersisa di saluran reproduksi. Karena itu, pria tetap perlu menggunakan metode kontrasepsi lain hingga dokter memastikan vasektomi berhasil melalui analisis semen setelah vas...

Waspada El Niño: Melindungi Kesehatan Paru di Tengah Ancaman Cuaca Panas Ekstrem dan Kekeringan

dr. Irandi Putra Pratomo, Sp.P(K), M.M., Ph.D.

2026-08-13

311

Waspada El Niño: Melindungi Kesehatan Paru di Tengah Ancaman Cuaca Panas Ekstrem dan Kekeringan

Fenomena El Niño mengakibatkan terjadi ketidakpastian iklim berupa gelombang panas dan risiko kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah. Kondisi cuaca ekstrem ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan pernapasan masyarakat awam.

Suhu lingkungan yang melonjak secara signifikan dapat memperburuk kondisi penderita penyakit paru tidak menular, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Selain suhu tinggi, kekeringan akibat El Niño sering kali diikuti oleh penurunan kualitas udara akibat debu dan risiko kebakaran hutan yang melepaskan partikel halus (PM2.5) ke atmosfer.

Secara biologis, panas ekstrem dapat memicu peradangan paru akut dan menyebabkan penyempitan saluran napas atau bronkokonstriksi. Suhu yang sangat tinggi juga mempercepat pembentukan polutan ozon di permukaan tanah yang bersifat iritan bagi sistem pernapasan.

Populasi yang rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit alergi, jantung, atau paru, harus lebih waspada karena sistem pengaturan suhu tubuh mereka mungkin tidak bekerja seefektif orang dewasa sehat.

Langkah pencegahan mandiri berikut sangat penting dilakukan untuk meminimalkan risiko gejala pernapasan:

  1. Upayakan untuk tetap berada di dalam ruangan selama periode suhu puncak dan pantau selalu prakiraan kualitas udara setiap hari melalui berbagai aplikasi dan laman website.
  2. Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat polusi atau debu tinggi, gunakan masker seperti N95 untuk perlindungan optimal.
  3. Pastikan hidrasi tubuh terjaga dengan minum air yang cukup guna mencegah efek buruk dehidrasi terhadap fungsi organ.
  4. Bagi penderita penyakit kronik, konsultasikan dengan dokter untuk penyesuaian penggunaan obat-obatan selama musim panas guna mencegah kekambuhan gejala.
  5. Selain itu, jaga kebersihan udara di dalam rumah dengan ventilasi dan pendinginan yang baik atau gunakan alat pemurni udara untuk memb...

Rajin Gym tapi Hasil Tak Kunjung Terlihat? Kenali Peran Gizi untuk Memaksimalkan Latihan

Cindy Nurul Wahyuni, A.Md.Gz.

2026-08-13

282

Rajin Gym tapi Hasil Tak Kunjung Terlihat? Kenali Peran Gizi untuk Memaksimalkan Latihan

Dalam beberapa tahun terakhir, gym semakin populer sebagai pilihan olahraga untuk menurunkan berat badan, membentuk massa otot, meningkatkan kebugaran, maupun menjaga kesehatan secara umum. Fenomena ini juga terlihat di berbagai negara. Survei 2026 ACSM Worldwide Fitness Trends melaporkan bahwa sekitar 20% orang dewasa di Amerika Serikat memiliki membership gym. Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang merasa sudah rutin berlatih secara konsisten selama berbulan-bulan tetapi hasilnya belum sesuai harapan..

Padahal, keberhasilan latihan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering atau seberapa berat latihan dilakukan. Tubuh juga membutuhkan asupan energi dan zat gizi yang cukup, hidrasi yang baik, serta waktu istirahat yang memadai agar dapat beradaptasi dengan latihan secara optimal. Oleh karena itu, penerapan gizi yang tepat menjadi salah satu kunci untuk memperoleh hasil latihan yang maksimal.

Mengapa Hasil Latihan Gym Tidak Maksimal?

Saat latihan beban, serat otot mengalami kerusakan ringan sebagai bagian dari proses adaptasi tubuh. Selanjutnya, tubuh memperbaiki dan membentuk protein otot baru melalui proses yang disebut muscle protein synthesis (MPS) yang berperan dalam meningkatkan massa dan kekuatan otot.

Agar MPS berlangsung optimal, tubuh memerlukan energi, protein, vitamin, mineral, serta waktu istirahat yang cukup. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, proses pemulihan menjadi kurang optimal sehingga tubuh lebih mudah lelah, performa latihan menurun, dan perubahan komposisi tubuh berlangsung lebih lambat meskipun sudah rutin berolahraga.

Kondisi ini sering kali disebabkan oleh beberapa kebiasaan berikut:

1. Pola makan tidak teratur
Melewatkan waktu makan, tidak sarapan, atau makan dalam jumlah sangat sedikit sebelum berolahraga dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi saat latihan. Menjaga jadwal makan yang teratur membantu tubuh memperoleh energi secara optimal selama...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved