Artikel Kesehatan

Vaksin Campak Manfaat, Keamanan, dan Risiko Jika Tidak Melakukan Imunisasi

Promosi Kesehatan (Anggi Septiana)

2026-04-14

53

Vaksin Campak Manfaat, Keamanan, dan Risiko Jika Tidak Melakukan Imunisasi

Campak masih menjadi salah satu penyakit menular yang sangat mudah menyebar dan berisiko menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak. Di tengah maraknya informasi yang tidak akurat, masih banyak masyarakat yang ragu terhadap vaksin campak, baik karena kekhawatiran efek samping maupun mitos yang tidak terbukti secara ilmiah.

Padahal, vaksin campak merupakan cara paling efektif untuk melindungi tubuh dari infeksi sekaligus mencegah penyebaran penyakit di masyarakat. Artikel ini akan membahas manfaat, keamanan, efek samping, serta risiko jika tidak melakukan vaksinasi campak.

Apa Itu Campak dan Bagaimana Penularannya?

Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular dan disebabkan oleh virus measles. Penyakit ini menyebar melalui percikan air liur (droplet) saat penderita batuk atau bersin, bahkan dapat bertahan di udara selama beberapa jam.

Menurut World Health Organization, campak merupakan salah satu penyakit paling menular yang dapat menginfeksi sebagian besar orang yang belum memiliki kekebalan.

Untuk memahami lebih lengkap mengenai gejala, penyebab, serta cara penularan campak, Anda dapat membaca artikel kami sebelumnya:
Campak (Measles): Gejala, Penyebab, Penularan, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini.

Gejala Campak pada Anak dan Dewasa

Gejala campak biasanya muncul dalam 10–14 hari setelah paparan virus, antara lain:

  • Demam tinggi
  • Batuk, pilek, dan mata merah
  • Ruam merah yang muncul dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh

Pada beberapa kasus, gejala dapat memburuk dan menyebabkan komplikasi serius.

Apakah Campak Berbahaya? Ini Risiko dan Komplikasinya

Campak bukan penyakit ringan. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat menyebabkan:

  • Pneumo...

Gejala DBD pada Anak: Ciri-Ciri Awal & Kapan Harus ke Dokter (Musim Pancaroba)

Promosi Kesehatan (Nasira Aaliya Noreen)

2026-04-14

25

Gejala DBD pada Anak: Ciri-Ciri Awal & Kapan Harus ke Dokter (Musim Pancaroba)

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan utama di negara tropis, termasuk Indonesia. Penyakit ini sering meningkat saat musim pancaroba, ketika perubahan cuaca membuat daya tahan tubuh anak menurun dan populasi nyamuk meningkat. Tidak heran jika DBD menjadi salah satu penyakit yang sering muncul saat musim pancaroba, terutama pada anak-anak.

Gejala DBD pada anak umumnya ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri tubuh, mual, dan ruam kulit. Pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat berkembang menjadi serius dan memerlukan penanganan medis segera.

Bagi orang tua, DBD sering menimbulkan kekhawatiran karena gejalanya di awal kerap menyerupai penyakit ringan. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Ciri-Ciri dan Gejala DBD pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Pada anak, gejala DBD sering tidak langsung khas. Banyak kasus diawali dengan keluhan ringan yang membuat orang tua terkecoh.

Pada tahap awal, gejala DBD sering menyerupai infeksi virus pada anak, seperti flu atau infeksi saluran cerna. Kondisi ini sering membuat orang tua terlambat menyadari bahwa demam pada anak tidak kunjung turun bisa menjadi tanda penyakit yang lebih serius.

Gejala biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk dan berlangsung selama 2–7 hari.

Berikut tanda-tanda DBD pada anak:

  • Demam tinggi mendadak (hingga 40°C)
  • Sakit kepala berat
  • Nyeri di belakang mata
  • Nyeri otot dan sendi
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Ruam atau bintik merah pada kulit

Pada bayi dan anak kecil, gejala bisa lebih tidak spesifik, seperti:

  • Anak menjadi lebih rewel
  • Nafsu makan menurun
  • Pola tidur terganggu

Perubahan perilaku ini sering menjadi tanda awal yang luput dikenali sebagai tanda DBD pada anak.

Perawatan DBD Ringan di Rumah

Hingga saat ini, belum ada obat k...

Gejala Tipes: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegah Demam Tifoid

Promosi Kesehatan (Arazzy Shafa Nirwasta)

2026-04-14

29

Gejala Tipes: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegah Demam Tifoid

Apa Itu Tipes (Demam Tifoid)?

Demam tifoid, atau yang lebih dikenal sebagai “tipes”, adalah penyakit infeksi yang masih sering ditemukan di masyarakat, terutama di negara berkembang dengan sanitasi yang belum optimal.

Tipes adalah infeksi bakteri yang ditandai dengan demam berkepanjangan dan gangguan pencernaan akibat bakteri Salmonella typhi.

Sebagai salah satu penyakit infeksi yang masih sering terjadi, tipes kerap dianggap ringan. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius.

Gejala Tipes pada Orang Dewasa dan Anak yang Perlu Diwaspadai

Gejala tipes biasanya berkembang secara bertahap dan sering kali diawali dengan demam yang tidak kunjung turun.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Demam tinggi yang meningkat perlahan, terutama pada malam hari
  • Sakit kepala, lemas, dan nyeri otot
  • Gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, muntah, diare, atau sembelit
  • Ruam kemerahan (rose spots) pada dada dan perut
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan

Penyebab dan Cara Penularan Tipes yang Perlu Diketahui

Tipes disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penularan biasanya terjadi melalui:

  • Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi
  • Kebersihan tangan yang kurang baik, terutama setelah menggunakan toilet
  • Kontak langsung dengan penderita atau carrier (pembawa bakteri tanpa gejala)

Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan menyebar ke aliran darah.

Apakah Tipes Berbahaya? Ini Komplikasi yang Bisa Terjadi

Tipes dapat menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  • Perforasi usus (lubang pada dinding usus)
  • Perdarahan saluran cerna
  • Gangguan kesadaran hingga...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved