Artikel Kesehatan

Batuk Kronik: Penyebab, Gejala, dan Kapan Harus ke Dokter?

Dr. Dianiati Kusumo Sutoyo, Sp.P(K)

2026-10-02

26

Batuk Kronik: Penyebab, Gejala, dan Kapan Harus ke Dokter?

Batuk merupakan keluhan yang sangat umum. Meski sering dianggap sebagai tanda flu atau infeksi saluran pernapasan, batuk sebenarnya merupakan salah satu mekanisme pertahanan alami tubuh.

Melalui batuk, tubuh membantu mengeluarkan lendir serta berbagai benda atau partikel asing dari saluran pernapasan, seperti debu, polutan, iritan, virus, maupun bakteri. Batuk dapat bersifat kering tanpa dahak atau produktif dengan dahak.

Namun, batuk yang berlangsung terus-menerus hingga berminggu-minggu tidak boleh dianggap sebagai batuk biasa. Batuk yang berlangsung lebih dari 8 minggu pada orang dewasa disebut batuk kronik dan dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pernapasan maupun kondisi kesehatan lainnya.

Kapan Batuk Disebut Batuk Kronik?

Berdasarkan lamanya keluhan, materi RSUI membagi batuk menjadi tiga kelompok:

  • Batuk akut: kurang dari 3 minggu.
  • Batuk subakut: berlangsung 3–8 minggu.
  • Batuk kronik: berlangsung lebih dari 8 minggu.

Durasi batuk dapat membantu dokter memperkirakan kemungkinan penyebabnya. Batuk yang muncul tiba-tiba, misalnya, dapat berkaitan dengan tersedak atau masuknya benda asing ke saluran napas. Batuk selama beberapa hari hingga minggu dapat terjadi pada infeksi, sedangkan batuk yang bertahan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dapat berkaitan dengan penyakit kronik.

Batuk Kering dan Batuk Berdahak, Apa Bedanya?

Karakter batuk juga dapat memberikan petunjuk mengenai penyebabnya.

Batuk Kering

Batuk kering tidak disertai dahak. Dalam materi, beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan batuk kering antara lain:

  • Asma
  • Iritasi akibat polutan atau lingkungan
  • Efek samping obat tertentu
  • Penyakit paru interstisial

Batuk Berdahak

Batuk produktif atau batuk berdahak disertai pengeluaran lendir atau dahak. Kondisi ini dapat ditemukan...

Sebelum Obat Sampai ke Tangan Anda, Ada Apoteker yang Menjaga

apt. Avila Garibaldi, S.Farm. dan apt. Shafa Ratna Aulia Permata, S.Farm.

2026-10-01

35

Sebelum Obat Sampai ke Tangan Anda, Ada Apoteker yang Menjaga

Saat menerima obat di rumah sakit atau apotek, kita mungkin hanya melihat sebuah kotak, botol, atau beberapa tablet yang siap digunakan. Padahal, perjalanan obat hingga sampai ke tangan pasien melalui proses yang panjang.

Mulai dari pengembangan dan produksi di industri farmasi, pengujian mutu, penyimpanan dan distribusi, pengelolaan di rumah sakit, pengkajian resep, penyiapan obat, hingga pemberian informasi kepada pasien, terdapat berbagai tahapan yang dilakukan untuk menjaga mutu dan keamanan obat. Dalam perjalanan tersebut, apoteker memiliki peran penting. 

Peran menjaga keamanan obat bahkan tidak berhenti ketika obat sudah diberikan kepada pasien. Setelah obat dibawa pulang, pasien dan keluarga juga memiliki peran penting untuk memastikan obat didapatkan, digunakan, disimpan, dan dibuang dengan benar.

Lantas, apa saja yang sebenarnya terjadi sebelum obat sampai ke tangan kita?

Perjalanan Obat Dimulai dari Industri Farmasi

Sebelum tersedia di rumah sakit atau apotek, obat harus melalui proses yang panjang di industri farmasi.

Materi edukasi RSUI menjelaskan bahwa apoteker di industri dapat terlibat dalam berbagai bidang, mulai dari Research & Development (R&D), produksi, Quality Control (QC), Quality Assurance (QA), hingga Regulatory Affairs. 

Pada tahap Research & Development, dilakukan pengembangan dan evaluasi formulasi obat. Pada proses produksi, pembuatan obat perlu berlangsung sesuai prosedur dan standar yang berlaku.

Selanjutnya, Quality Control berperan dalam memastikan bahan dan produk memenuhi persyaratan mutu melalui pengujian yang sesuai. Sementara itu, Quality Assurance berkaitan dengan upaya memastikan sistem dan proses berjalan secara konsisten sesuai standar mutu. Aspek regulatori juga perlu dipenuhi agar produk dapat dipasarkan sesuai ketentuan. 

Hal tersebut sejalan dengan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. CPOB bertujuan memastikan oba...

Kanker Paru: Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

dr. Gatut Priyonugroho, Sp.P(K)-Onk., FISR

2026-09-24

87

Kanker Paru: Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Pentingnya Deteksi Dini

Batuk yang tidak kunjung sembuh, sesak napas, nyeri dada, hingga berat badan yang terus menurun terkadang dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, pada kondisi tertentu, keluhan tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan serius pada paru, termasuk kanker paru.

Kanker paru merupakan salah satu penyakit kanker yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang secara bertahap dan pada sebagian pasien baru diketahui ketika penyakit telah mencapai stadium lanjut.

Namun, kanker paru bukan berarti tidak dapat ditangani. Mengenali faktor risiko, memperhatikan gejala, melakukan skrining pada kelompok yang memenuhi kriteria, serta mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat dapat membantu meningkatkan peluang penanganan yang lebih baik.

Apa Itu Kanker Paru?

Tumor merupakan pertumbuhan jaringan atau benjolan yang tidak normal. Namun, tidak semua tumor merupakan kanker.

Kanker paru terjadi ketika sel abnormal pada paru tumbuh secara tidak terkendali dan bersifat ganas. Perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan atau mutasi pada sel yang membuat mekanisme pertumbuhan normal terganggu.

Dalam perjalanannya, sel kanker dapat terus berkembang, menyerang jaringan di sekitarnya, dan pada kondisi tertentu menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Secara umum, kanker paru dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu non-small cell lung cancer (NSCLC) dan small cell lung cancer (SCLC). Penentuan jenis kanker penting karena dapat memengaruhi pilihan terapi.

Siapa yang Berisiko Mengalami Kanker Paru?

Kanker paru dapat terjadi pada siapa saja. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya.

1. Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama kanker paru. Risiko dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk jumlah rokok yang dikonsumsi dan lamanya seseorang merokok.

Semakin lama dan semakin banyak paparan terhadap rokok, semakin besar pula risiko yang dapat terjadi.

Berhenti merokok...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved