Artikel Kesehatan

Gejala Tipes: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegah Demam Tifoid

Promosi Kesehatan (Arazzy Shafa Nirwasta)

2026-04-14

53

Gejala Tipes: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegah Demam Tifoid

Apa Itu Tipes (Demam Tifoid)?

Demam tifoid, atau yang lebih dikenal sebagai “tipes”, adalah penyakit infeksi yang masih sering ditemukan di masyarakat, terutama di negara berkembang dengan sanitasi yang belum optimal.

Tipes adalah infeksi bakteri yang ditandai dengan demam berkepanjangan dan gangguan pencernaan akibat bakteri Salmonella typhi.

Sebagai salah satu penyakit infeksi yang masih sering terjadi, tipes kerap dianggap ringan. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius.

Gejala Tipes pada Orang Dewasa dan Anak yang Perlu Diwaspadai

Gejala tipes biasanya berkembang secara bertahap dan sering kali diawali dengan demam yang tidak kunjung turun.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Demam tinggi yang meningkat perlahan, terutama pada malam hari
  • Sakit kepala, lemas, dan nyeri otot
  • Gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, muntah, diare, atau sembelit
  • Ruam kemerahan (rose spots) pada dada dan perut
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan

Penyebab dan Cara Penularan Tipes yang Perlu Diketahui

Tipes disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penularan biasanya terjadi melalui:

  • Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi
  • Kebersihan tangan yang kurang baik, terutama setelah menggunakan toilet
  • Kontak langsung dengan penderita atau carrier (pembawa bakteri tanpa gejala)

Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan menyebar ke aliran darah.

Apakah Tipes Berbahaya? Ini Komplikasi yang Bisa Terjadi

Tipes dapat menjadi kondisi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  • Perforasi usus (lubang pada dinding usus)
  • Perdarahan saluran cerna
  • Gangguan kesadaran hingga...

Self-Diagnosis di Era Digital: Bahaya Mendiagnosis Diri Sendiri dari Internet

Promosi Kesehatan (Arazzy Shafa Nirwasta)

2026-04-10

61

Self-Diagnosis di Era Digital: Bahaya Mendiagnosis Diri Sendiri dari Internet

Self-diagnosis atau kebiasaan mendiagnosis diri sendiri dari internet semakin sering terjadi di era digital. Akses informasi kesehatan yang mudah memang membantu, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan dalam memahami kondisi tubuh.

Self-diagnosis adalah kebiasaan menilai kondisi kesehatan sendiri tanpa pemeriksaan medis, yang berisiko menyebabkan salah diagnosis, kecemasan berlebihan, hingga penanganan yang tidak tepat.

Banyak orang, terutama generasi muda, mencari gejala penyakit melalui mesin pencari atau media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, lalu menarik kesimpulan sendiri tanpa dasar medis yang jelas.

Apa Itu Self-Diagnosis?

Self-diagnosis merujuk pada upaya seseorang menilai kondisi kesehatannya sendiri tanpa melalui pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.

Informasi yang beredar di platform digital sering kali bersifat umum, tidak lengkap, atau disederhanakan. Akibatnya, seseorang dapat salah menafsirkan gejala yang dialami. Misalnya, rasa lelah dan sulit konsentrasi bisa langsung diasosiasikan dengan gangguan tertentu, padahal bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurang tidur atau stres.

Kenapa Self-Diagnosis Sering Terjadi di Era Digital?

Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan. Beberapa faktor yang mendorong self-diagnosis antara lain:

  1. Akses Informasi yang Terlalu Muda
    Internet menyediakan jutaan artikel, video, dan forum diskusi tentang kesehatan, namun tidak semua informasinya terverifikasi secara medis.
  2. Keterbatasan Akses Pelayanan Kesehatan
    Biaya berobat yang mahal, antrian panjang, atau jarak tempuh ke fasilitas kesehatan membuat orang mencari solusi instan secara daring.
  3. Efek “Echo Chamber” Media Sosial
    Algoritma platform digital cenderung memperkuat keyakinan pengguna dengan menampilkan konten serupa, sehingga informasi yang salah pun dianggap benar.
  4. Stigma Terhadap Kesehatan Mental
    Masih banyak orang yang enggan b...

Campak (Measles): Gejala, Penyebab, Penularan, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini

Promosi Kesehatan

2026-04-09

181

Campak (Measles): Gejala, Penyebab, Penularan, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini

Apa Itu Campak?

Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus. Penyakit ini ditandai dengan demam dan ruam khas, serta dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

Menurut WHO dan CDC, campak termasuk salah satu penyakit paling menular di dunia dan dapat menyebabkan wabah terutama di daerah dengan cakupan imunisasi rendah.

Di Indonesia sendiri, kasus campak masih ditemukan setiap tahun. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan puluhan ribu kasus suspek campak terjadi sepanjang 2025 dan masih berlanjut pada awal 2026.

Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai

Gejala campak biasanya muncul 7–14 hari setelah seseorang terpapar virus. Beberapa tanda yang umum terjadi meliputi:

  • Demam tinggi
  • Batuk
  • Pilek
  • Mata merah (konjungtivitis)
  • Muncul ruam merah pada kulit yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh

Selanjutnya muncul tanda khas:

  • Bercak putih di dalam mulut (bercak Koplik)
  • Ruam kemerahan (makulopapular) yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh

Penyebab dan Cara Penularan Campak?

Campak disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus yang menyebar melalui percikan saluran pernapasan (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Virus ini sangat infeksius, sehingga satu penderita dapat menularkan penyakit kepada banyak orang, terutama pada individu yang belum memiliki kekebalan.

Penularan dapat terjadi melalui:

  • Menghirup udara yang telah terkontaminasi virus
  • Menyentuh permukaan atau benda yang terpapar virus, kemudian menyentuh area wajah seperti hidung, mulut, atau mata

Virus campak juga dapat bertahan di udara maupun pada permukaan benda selama beberapa waktu, sehingga meningkatkan risiko penularan, terutama di ruang tertutup atau lingkungan dengan ventila...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved