Definisi dan Epidemiologi
Filariasis limfatik yang selanjutnya disebut filariasis dikenal juga sebagai penyakit kaki gajah (elephantiasis), merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening. World Health Organization (WHO) memasukkan penyakit ini dalam kelompok penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Disease/NTD) karena penyakit tropis ini tidak dianggap sebagai penyakit menular yang penting. Akan tetapi penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan produktivitas dan berdampak terhadap kehidupan sosial penderita. Penyakit ini dapat merusak sistem limfe sehingga menimbulkan pembengkakan di tangan, kaki, payudara, dan buah zakar. Pembengkakan ini dapat menimbulkan kecacatan dan stigma sosial bagi penderita serta keluarganya. Data WHO memperlihatkan terdapat 120 juta penduduk di 83 negara terinfeksi filaria, dengan sekitar 40 juta mengalami kecacatan dan lumpuh. Di Indonesia, sampai dengan tahun 2014 terdapat lebih dari 14 ribu orang menderita kaki gajah yang tersebar di 235 kabupaten/kota endemis filariasis dari 511 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Untuk masing-masing wilayah, cacing penyebab filariasis dapat berbeda-beda.
Terdapat 3 spesies cacing yang dapat menyebabkan filariasis limfatik di manusia, yaitu Wuchereria bancrofti (90% kasus), Brugia malayi, dan Brugia timori. Bergantung karakteristik biologisnya, cacing filaria ini dapat ditransmisikan melalui nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Mansonia, dan Ochlerotatus. Spesies penyebab bisa berbeda tergantung pada lokasi geografis. Umumnya cacing ini ditemukan di dataran rendah, terutama di pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa, dan hutan. Sebagai gambaran umum, Wuchereria bancrofti tersebar di Papua, Nusa Tenggara, Maluku, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Wuchereria bancrofti tipe pedesaan banyak ditemukan di Papua, Nusa Tenggara Timur, sedangkan tipe kota banyak ditemukan di Jakarta, Bekasi, Semarang, Tangerang, Pekalongan, dan Lebak. Brugia malayi tersebar di Sumatera, Kalimantan Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku. Brugia timori terdapat di Kepulauan Flores, Alor, Rote, Sumba yang umumnya daerah persawahan.
Penyebab
Filariasis di Indonesia disebabkan oleh cacing filaria yang termasuk kelompok cacing gelang (nematoda). Infeksi dari satu penderita ke orang ke orang sehat terjadi melalui gigitan nyamuk.
Cacing filaria menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk yang mengandung larva infektif. Di tubuh manusia larva akan tumbuh menjadi cacing dewasa yang hidup di kelenjar getah bening dan melakukan reproduksi sehingga menghasilkan mikrofilaria (cacing kecil). Mikrofilaria akan beredar di pembuluh darah dan terbawa ke tubuh nyamuk pada saat nyamuk mengigit penderita. Mikrofilaria akan menginfeksi nyamuk dan selanjutnya di dalam tubuh yaitu di rongga dada nyamuk, mikrofilaria akan berkembang menjadi larva L1. Kemudian larva cacing akan tumbuh menjadi larva stadium ke-3 (L3) atau disebut sebagai larva infektif yang akan pindah ke bagian kepala dan menetap di probosis atau belalai nyamuk. Saat nyamuk menggigit orang lain, larva infektif akan berpindah dari nyamuk ke manusia dan siklus hidup cacing filaria di manusia berulang kembali. Di dalam tubuh manusia larva L3 akan bertumbuh menjadi cacing dewasa dalam waktu sekitar 6 bulan, dan cacing dewasa mampu hidup dalam tubuh manusia selama 5-7 tahun. Seekor cacing filaria dewasa mampu menghasilkan jutaan mikrofilaria.
Tanda dan Gejala
Di tahap awal infeksi, meskipun cacing filaria hidup di sistem getah bening manusia namun hampir tidak ada gejala yang dirasakan, sehingga seseorang mengetahui dirinya terinfeksi bila melakukan pemeriksaan darah. Meskipun tidak menunjukkan gejala, namun kerusakan sistem getah bening akan terus terjadi dan mempengaruhi sistem imun tubuh penderita. Selanjutnya timbul gejala awal (akut) yang ditandai dengan demam secara berulang 1-2 kali atau lebih setiap bulan selama 3-4 hari. Apabila penderita bekerja berat timbul benjolan yang terasa panas dan nyeri di lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka, nyeri dimulai dari pangkal paha atau ketiak ke arah ujung dari kaki atau tangan.
Ketika filariasis limfatik berkembang menjadi kronis, maka akan terjadi limfedema/penumpukkan cairan yang menyebabkan pembengkakan di kaki, lengan, payudara, dan alat kelamin. Di sebagian besar kasus, gejala ini mulai tampak beberapa tahun setelah seseorang terinfeksi. Penumpukan cairan terjadi akibat sistem getah bening yang tersumbat oleh cacing filaria dewasa. Selain penumpukan cairan, sumbatan di sistem getah bening membuat sistem imun terganggu sehingga kulit rentan terkena infeksi dan menyebabkan kerusakan serta penebalan lapisan kulit (elephantiasis). Bila sudah terjadi limfedema, penting melakukan penilaian derajat keparahan berdasarkan bengkak pada kaki, lipatan kulit, ada tidaknya nodul, ada tidaknya mossy lesions, dan hambatan berat. Pada kondisi ini, terjadi perubahan bentuk yang tidak umum (deformitas) sehingga sering kali orang yang terinfeksi sulit melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, mendapatkan stigma sosial, meningkatkan biaya pengobatan.
Diagnosis
Diagnosis filariasis ditegakkan dengan pemeriksaan parasitologi dengan cara pemeriksaan darah untuk menemukan mikrofilaria. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari saat mikrofilaria aktif bersirkulasi di pembuluh darah (nocturnal periodicity). Pemeriksaan lainnya adalah menggunakan tes serologi deteksi antigen atau antibodi yang dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu pengambilan darah malam.
Pengobatan/ Perawatan
Pengobatan filariasis bervariasi tergantung pada gejala apa yang ditimbulkan dan seberapa parah kondisi tersebut. Secara umum, pengobatan filariasis dapat meliputi:
- Obat anti parasit seperti ivermectin, diethylcarbamazine, atau albendazole, dapat menghancurkan cacing dewasa dalam darah atau mencegahnya berkembang biak. Mengonsumsi obat-obatan ini juga dapat mencegah penularan infeksi ke orang lain.
- Pembedahan dilakukan untuk mengatasi hidrokel dan elephantiasis scrotal (pembengkakan pada buah zakar) untuk menghilangkan cacing mati dari aliran darah.
- Program MMDP (Morbidity Management and Disability Prevention in Lymphatic Filariasis), berupa cara merawat limfedema sesuai dengan stadium keparahannya:
- Stadium 1-2: menjaga kebersihan kulit dengan mencuci dan mengeringkan, elevasi kaki, olahraga, menggunakan alas kaki, memijat kaki, menggunakan bandage pada kaki, dukungan psikososial
- Stadium 3-7: Sama dengan stadium 1-2, tetapi perlu diedukasi untuk dilakukan secara lebih sering dan lebih teliti
- Stadium 3-7 dengan entry lesions: deteksi entry lesion dini, menjaga kebersihan kulit dengan mencuci dan mengeringkan, elevasi kaki, olahraga, membersihkan entry lesion, aplikasikan krim antibiotik atau antifungal, jangan menggaruk luka, dukungan psikososial
- Stadium 3-7 pada serangan akut: Sama dengan stadium 3-7 dengan entry lesions, tetapi hindari olahraga dan penggunaan bandage pada kaki, konsumsi analgesik-antipiretik, minum banyak air, serta aplikasikan handuk dingin di kaki. Rujuk jika tidak ada perbaikan
Pencegahan
Cara paling efektif untuk mencegah penyakit filariasis limfatik adalah dengan menghindari gigitan nyamuk. Umumnya nyamuk pembawa larva cacing filaria menggigit antara senja dan fajar, khususnya bila tinggal di area yang banyak kasus filariasis. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
- Pada malam hari, tidur menggunakan kelambu atau di ruangan ber- AC
- Antara waktu senja dan fajar, gunakan baju dan celana panjang
- Gunakan lotion anti nyamuk di area kulit yang tidak tertutup baju/celana
Pendekatan lain dalam upaya pengendalian penyakit filariasis limfatik dapat dilakukan dengan cara pemberian obat cacing dalam skala besar (mass drug administration) di daerah endemis. Pengobatan ini dapat mengurangi jumlah parasit yang bersirkulasi di dalam darah penderita, sehingga menurunkan penyebaran. Selain itu, pengendalian nyamuk sebagai vektor tetap merupakan strategi tambahan untuk pencegahan transmisi penyakit filariasis limfatik. Bergantung dari spesies nyamuk vektornya, metode pengendalian dapat berupa pemberantasan sarang nyamuk, modifikasi lingkungan, penggunaan kelambu tidur (ITN), program penyemprotan insektisida (IRS), dan penggunaan repelen atau obat nyamuk.
Sumber:
- Centers for Disease Control and Prevention. Lymphatic Filariasis. 2022. CDC. Diakses dari: https://www.cdc.gov/parasites/lymphaticfilariasis/
- World Health Organization. 2022. Lymphatic Filariasis. WHO. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/lymphatic-filariasis
- World Health Organization. Regional Office for South-East Asia. (2013). Morobidity management and disability prevention in lymphatic filariasis. WHO Regional Office for South-East Asia. https://apps.who.int/iris/handle/10665/205539
- Lich B. Filariasis. Medscape. 2018. Diakses dari: https://emedicine.medscape.com/article/217776-clinical#b1.