
dr. Fhathia Avisha, dr. Endah Setyaningsih, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A
2022-08-02
3684
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi karena mengandung semua zat gizi serta faktor bioaktif seperti enzim, hormon, growth factors dan lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Menyusui dimulai segera setelah lahir, kemudian diberikan secara eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih. Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu indikator program pemerintah dalam melaksanakan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka seribu hari pertama kehidupan (Gerakan 1000 HPK), gerakan ini dimulai dari masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun.
Saat masa pandemi ini, banyak Ibu yang merasa takut tentang risiko penularan ke bayi saat menyusui. Hal yang perlu diedukasi pada Ibu yaitu tidak hanya tentang risiko penularan COVID-19 ke bayi selama menyusui, tetapi juga risiko kesakitan dan kematian yang berhubungan apabila Ibu tidak menyusui, ketidaksesuaian penggunaan susu formula, dan pentingnya skin-to-skin contact. Skin-to-skin contact secara dini dan tidak terinterupsi, rawat gabung, dan metode kangguru direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), hal ini dapat mempercepat bonding dan meningkatkan keberhasilan menyusui.
Bagaimana menyusui pada ibu yang sedang menjalani isolasi mandiri saat pandemi seperti ini?
Sampai saat ini belum ada bukti penularan COVID-19 secara langsung dari ibu ke anak melalui ASI. Kemungkinan penularan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya dapat melalui kontak langsung dengan droplet (cairan saluran pernapasan) ibu. Sehingga pada ibu yang sedang isolasi mandiri, tetap boleh memberikan ASI dengan memperhatikan prosedur pencegahan penularan.
Mengurangi intensitas menyusui atau memerah dapat menyebabkan turunnya suplai ASI, bayi menunjukkan penolakan ketika diberikan ASI kembali di kemudian hari, dan penurunan imun protektif yang terkandung dalam ASI. Berikut anjuran bagi ibu menyusui yang menja...

dr. Devi Nurfadila Fani, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A
2022-07-26
85339
Tahukah Ayah Bunda, protein hewani sangat berpengaruh terhadap tinggi anak?
Hasil studi menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi dan asupan protein harian anak di usia penting pertumbuhan menunjang penambahan tinggi badan anak di usia sekolah (5-10 tahun). Jika hal ini tidak di perhatikan akan mengakibatkan asupan gizi yang diberikan dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan akan berpotensi melambatnya perkembangan otak. Hal ini berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Kebutuhan asupan protein harian sangat penting diperhatikan untuk tumbuh kembang anak usia pertumbuhan terutama protein hewani.
Protein hewani adalah protein yang berasal dari hewan, meliputi daging sapi, daging kambing, daging ayam, daging bebek, seafood, serta telur. Keunggulan protein hewani adalah memiliki komposisi asam amino esensial lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Selain itu protein hewani juga kaya akan mikronutrien seperti vitamin B12, vitamin D, DHA (docosahexaenoic acid), zat besi, dan zink. Mikronutrien tersebut memiliki peran penting bagi tubuh, yaitu:
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) no 28 tahun 2019 kebutuhan asupan protein harian anak disesuaikan dengan usia dari anak yaitu usia 6-11 bulan sebanyak 15 gram/hari, usia 1-3 tahun sebanyak 20 gram/hari, usia 4-6 tahun sebanyak 25 gram/hari, dan usia 7-9 ta...

Nicholas Adriel Emmanuel, S.Ked, Fanny Michelle, S.Ked, Damayanti Angelina, S.Ked Veren Putri, S.Ked
2022-07-18
48072
Di reviu oleh: dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, FICS
Sirkumsisi (disebut juga sunat atau khitanan) merupakan metode pembedahan untuk membuang prepusium atau kulit khitan yang menutupi kepala penis. Praktik ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu sebagai bagian dari kebudayaan, kepercayaan, dan keagamaan. Di Indonesia sendiri, praktik ini sudah tidak asing lagi. Praktik sirkumsisi juga sering dikaitkan dengan proses menuju kedewasaan dan proses higienitas. Manfaat dari sirkumsisi juga sangat baik untuk kesehatan. Studi di Amerika menyebutkan bahwa dengan sirkumsisi, infeksi saluran kemih dapat dicegah, penyebaran berbagai virus seperti sifilis dan herpes dapat diturunkan, dan risiko terjadinya kanker penis lebih rendah. Dengan begitu banyak manfaat untuk kesehatan ditambah dengan dasar kepercayaan, sirkumsisi menjadi tindakan yang dianggap umum, baik, dan wajib dijalankan. Namun, sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk melakukannya dan apakah semua laki-laki bisa menjalankan sirkumsisi?
Sirkumsisi dilakukan pada berbagai keadaan, tetapi sirkumsisi tidak selalu diperlukan. Keputusan sirkumsisi tidak hanya mempertimbangkan kondisi medis, namun juga sesuai faktor kebudayaan dan keagamaan. Kondisi medis yang wajib memerlukan sirkumsisi adalah fimosis, yakni kondisi ketika kulit prepusium sulit ditarik dan balanopostitis, yakni kondisi kemerahan dan bengkak pada prepusium dan kepala penis. Selain itu, kondisi yang relatif membutuhkan sirkumsisi adalah sebagai berikut:
Sirkumsisi lebih baik dilakukan pada bayi dan anak kecil laki-laki. Pada bayi dan anak kecil, prosedur sirkumsisi lebih sederhana dan cepat. Risiko komplikasi dan perdarahan juga lebih kecil. Selain itu, waktu penyembuhan lebih cepat dengan hasil lebih baik, yaitu 2 minggu p...

dr. Fhathia Avisha, dr. Endah Setyaningsih, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A
2022-08-02
3684
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi karena mengandung semua zat gizi serta faktor bioaktif seperti enzim, hormon, growth factors dan lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Menyusui dimulai segera setelah lahir, kemudian diberikan secara eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih. Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu indikator program pemerintah dalam melaksanakan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam rangka seribu hari pertama kehidupan (Gerakan 1000 HPK), gerakan ini dimulai dari masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun.
Saat masa pandemi ini, banyak Ibu yang merasa takut tentang risiko penularan ke bayi saat menyusui. Hal yang perlu diedukasi pada Ibu yaitu tidak hanya tentang risiko penularan COVID-19 ke bayi selama menyusui, tetapi juga risiko kesakitan dan kematian yang berhubungan apabila Ibu tidak menyusui, ketidaksesuaian penggunaan susu formula, dan pentingnya skin-to-skin contact. Skin-to-skin contact secara dini dan tidak terinterupsi, rawat gabung, dan metode kangguru direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), hal ini dapat mempercepat bonding dan meningkatkan keberhasilan menyusui.
Bagaimana menyusui pada ibu yang sedang menjalani isolasi mandiri saat pandemi seperti ini?
Sampai saat ini belum ada bukti penularan COVID-19 secara langsung dari ibu ke anak melalui ASI. Kemungkinan penularan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya dapat melalui kontak langsung dengan droplet (cairan saluran pernapasan) ibu. Sehingga pada ibu yang sedang isolasi mandiri, tetap boleh memberikan ASI dengan memperhatikan prosedur pencegahan penularan.
Mengurangi intensitas menyusui atau memerah dapat menyebabkan turunnya suplai ASI, bayi menunjukkan penolakan ketika diberikan ASI kembali di kemudian hari, dan penurunan imun protektif yang terkandung dalam ASI. Berikut anjuran bagi ibu menyusui yang menja...

dr. Devi Nurfadila Fani, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A
2022-07-26
85339
Tahukah Ayah Bunda, protein hewani sangat berpengaruh terhadap tinggi anak?
Hasil studi menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi dan asupan protein harian anak di usia penting pertumbuhan menunjang penambahan tinggi badan anak di usia sekolah (5-10 tahun). Jika hal ini tidak di perhatikan akan mengakibatkan asupan gizi yang diberikan dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan akan berpotensi melambatnya perkembangan otak. Hal ini berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Kebutuhan asupan protein harian sangat penting diperhatikan untuk tumbuh kembang anak usia pertumbuhan terutama protein hewani.
Protein hewani adalah protein yang berasal dari hewan, meliputi daging sapi, daging kambing, daging ayam, daging bebek, seafood, serta telur. Keunggulan protein hewani adalah memiliki komposisi asam amino esensial lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Selain itu protein hewani juga kaya akan mikronutrien seperti vitamin B12, vitamin D, DHA (docosahexaenoic acid), zat besi, dan zink. Mikronutrien tersebut memiliki peran penting bagi tubuh, yaitu:
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) no 28 tahun 2019 kebutuhan asupan protein harian anak disesuaikan dengan usia dari anak yaitu usia 6-11 bulan sebanyak 15 gram/hari, usia 1-3 tahun sebanyak 20 gram/hari, usia 4-6 tahun sebanyak 25 gram/hari, dan usia 7-9 ta...

Nicholas Adriel Emmanuel, S.Ked, Fanny Michelle, S.Ked, Damayanti Angelina, S.Ked Veren Putri, S.Ked
2022-07-18
48072
Di reviu oleh: dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, FICS
Sirkumsisi (disebut juga sunat atau khitanan) merupakan metode pembedahan untuk membuang prepusium atau kulit khitan yang menutupi kepala penis. Praktik ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu sebagai bagian dari kebudayaan, kepercayaan, dan keagamaan. Di Indonesia sendiri, praktik ini sudah tidak asing lagi. Praktik sirkumsisi juga sering dikaitkan dengan proses menuju kedewasaan dan proses higienitas. Manfaat dari sirkumsisi juga sangat baik untuk kesehatan. Studi di Amerika menyebutkan bahwa dengan sirkumsisi, infeksi saluran kemih dapat dicegah, penyebaran berbagai virus seperti sifilis dan herpes dapat diturunkan, dan risiko terjadinya kanker penis lebih rendah. Dengan begitu banyak manfaat untuk kesehatan ditambah dengan dasar kepercayaan, sirkumsisi menjadi tindakan yang dianggap umum, baik, dan wajib dijalankan. Namun, sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk melakukannya dan apakah semua laki-laki bisa menjalankan sirkumsisi?
Sirkumsisi dilakukan pada berbagai keadaan, tetapi sirkumsisi tidak selalu diperlukan. Keputusan sirkumsisi tidak hanya mempertimbangkan kondisi medis, namun juga sesuai faktor kebudayaan dan keagamaan. Kondisi medis yang wajib memerlukan sirkumsisi adalah fimosis, yakni kondisi ketika kulit prepusium sulit ditarik dan balanopostitis, yakni kondisi kemerahan dan bengkak pada prepusium dan kepala penis. Selain itu, kondisi yang relatif membutuhkan sirkumsisi adalah sebagai berikut:
Sirkumsisi lebih baik dilakukan pada bayi dan anak kecil laki-laki. Pada bayi dan anak kecil, prosedur sirkumsisi lebih sederhana dan cepat. Risiko komplikasi dan perdarahan juga lebih kecil. Selain itu, waktu penyembuhan lebih cepat dengan hasil lebih baik, yaitu 2 minggu p...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved