
Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Dimas Nugroho, dr. Meisya Shabrina
2023-01-25
3776
Para gamers atau pemain video game tentu sudah tak asing dengan istilah eSports, sebuah industri “olahraga” baru untuk komunitas dewasa muda yang sedang populer saat ini. Terjadi perubahan tren industri gaming yang sebelumnya merupakan hobi kini menjadi olahraga profesional yang kian terorganisir.
Electronic sports atau eSports merupakan sebuah kompetisi bermain video games dengan rata-rata seorang atlet menghabiskan waktu 5,5 hingga 10 jam bermain di depan layar. Sejarah eSports diawali dengan kompetisi game Spacewar oleh 24 siswa Universitas Stanford pada tahun 1972.2 Tahun 2018, eSports pertama kali muncul di Asian Games sebagai olahraga demonstrasi dengan perolehan medali tidak dihitung dalam perhitungan medali resmi.
Masyarakat Indonesia yang bermain eSports juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Baru-baru ini, Indonesia juga menggelar IESF 14th World eSports Championship di Bali dan berhasil menjadi juara umum yang membuat Indonesia menduduki peringkat 17 Dunia.
Kontroversi Seputar eSports
Perdebatan tentang eSports yang tetap menjadi topik diskusi yang panas untuk dibicarakan adalah terkait pengkategorian eSports sebagai olahraga. Pada tahun 2014, Physical Activity Council di Amerika mengharapkan eSports dapat menjadi sebuah solusi dalam mengatasi banyaknya masyarakat yang tidak memenuhi rekomendasi World Health Organization (WHO) dalam melakukan aktivitas fisik maupun latihan fisik. Akan tetapi di sisi yang lain, hal ini menimbulkan kontroversi karena perbedaan sifat olahraga yang cenderung sangat membutuhkan kemampuan fisik, sementara sebaliknya yang terjadi pada permainan eSports.
Seola...

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2023-01-24
51618
Angka jumlah perokok di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2020, prevalensi perokok di Indonesia adalah sekitar 35,6% dari jumlah penduduk dewasa (usia 15 tahun ke atas). Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat prevalensi perokok tertinggi di dunia. Selain itu, jumlah perokok aktif di Indonesia juga cukup besar, sejumlah diperkirakan sekitar 57 juta orang.
Kesuburan pria ditentukan oleh jumlah dan kualitas sperma yang dihasilkan. Sperma yang sehat dan normal dikatakan memiliki ukuran yang cukup besar, bentuk yang normal, dan gerak yang aktif. Angka kesuburan pria dapat diukur dengan tingkat spermatozoa (sperma) yang sehat dan normal dalam satu ejakulasi. Menurut World Health Organization (WHO), jumlah sperma normal dalam setiap mililiter air mani adalah antara 15 juta sampai 200 juta sperma, dengan tingkat gerak sperma normal adalah antara 40% sampai 60% sperma yang bergerak. Namun, kehamilan masih dapat terjadi dengan jumlah sperma yang lebih rendah dari itu. Di sisi lain, angka kesuburan pria bervariasi dari individu ke individu. Beberapa pria mungkin memiliki jumlah sperma yang lebih rendah dari tingkat normal yang ditentukan oleh WHO, namun masih dapat memiliki kemampuan untuk membuahi. Faktor yang dapat mempengaruhi kesuburan pria meliputi usia, gaya hidup, kesehatan, dan faktor genetik.
Sayangnya, tidak ada data yang tersedia secara spesifik mengenai angka kesuburan pria di Indonesia. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat kesuburan pria di Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Diketahui bahwa merokok merupakan kebiasaan yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan pria
Merokok dapat mempengaruhi kualitas sperma dan kesuburan pria. Asap rokok mengandung berbagai jenis zat kimia yang dapat merusak sperma dan menyebabkan masalah kesuburan. Beberapa studi menunjukkan bahwa perokok memiliki jumlah sperm...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K); dr. Bunga Listia Paramita; dr. Diczen
2023-01-24
76965
Tidak seperti kaum adam yang justru lebih suka bahkan terobsesi untuk melakukan latihan kekuatan otot karena percaya akan membuat tubuhnya lebih cepat berotot dan terlihat “sixpack”, apalagi jika ditambah dengan konsumsi suplemen penambah massa otot, kaum hawa biasanya melakukan latihan dengan tujuan mengatur berat badan serta alasan estetik dan pencitraan diri seperti ingin terlihat lebih langsing, seksi, dan cantik. Latihan kekuatan otot masih menjadi kekhawatiran sendiri bagi kaum hawa karena takut otot menjadi kekar dan maskulin.
Rekomendasi dari World Health Organization (WHO) untuk orang dewasa berusia 18–64 tahun adalah beraktivitas fisik secara teratur setidaknya 150–300 menit per minggu. Aktivitas fisik yang disarankan adalah aktivitas yang bersifat aerobik dan menguatkan otot. Dengan demikian, belumlah lengkap jika seseorang hanya melakukan aktivitas fisik dan latihan fisik tanpa diimbangi latihan kekuatan otot. Lalu, apakah anggapan bahwa latihan kekuatan otot dapat menjadikan tubuh kekar dan berotot seperti para binaraga tersebut benar?
Definisi dan Manfaat Latihan Kekuatan Otot
Di masyarakat, latihan kekuatan otot dikenal dengan berbagai istilah, seperti strength training (latihan kekuatan), resistance training (latihan ketahanan), atau weight training (latihan beban). Latihan kekuatan otot adalah latihan yang melatih otot dan saraf, yang dilakukan dengan cara memberikan beban kepada otot kemudian gerakan dilakukan secara berulang.
Latihan kekuatan otot memiliki berbagai manfaat, seperti menurunkan risiko terkena penyakit jantung, kanker, diabetes sebesar 10–17%,2 meningkatkan massa otot, meningkatkan kepadatan tulang, dan menurunkan lemak tubuh. Pada perempuan, latihan kekuatan otot di usia muda juga dapat mencegah osteoporosis pasca menopause. Oleh sebab itu, latihan kekuatan otot yang dimulai sejak muda sebenarnya merupakan investasi kebugar...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K), dr. Dimas Nugroho, dr. Meisya Shabrina
2023-01-25
3776
Para gamers atau pemain video game tentu sudah tak asing dengan istilah eSports, sebuah industri “olahraga” baru untuk komunitas dewasa muda yang sedang populer saat ini. Terjadi perubahan tren industri gaming yang sebelumnya merupakan hobi kini menjadi olahraga profesional yang kian terorganisir.
Electronic sports atau eSports merupakan sebuah kompetisi bermain video games dengan rata-rata seorang atlet menghabiskan waktu 5,5 hingga 10 jam bermain di depan layar. Sejarah eSports diawali dengan kompetisi game Spacewar oleh 24 siswa Universitas Stanford pada tahun 1972.2 Tahun 2018, eSports pertama kali muncul di Asian Games sebagai olahraga demonstrasi dengan perolehan medali tidak dihitung dalam perhitungan medali resmi.
Masyarakat Indonesia yang bermain eSports juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Baru-baru ini, Indonesia juga menggelar IESF 14th World eSports Championship di Bali dan berhasil menjadi juara umum yang membuat Indonesia menduduki peringkat 17 Dunia.
Kontroversi Seputar eSports
Perdebatan tentang eSports yang tetap menjadi topik diskusi yang panas untuk dibicarakan adalah terkait pengkategorian eSports sebagai olahraga. Pada tahun 2014, Physical Activity Council di Amerika mengharapkan eSports dapat menjadi sebuah solusi dalam mengatasi banyaknya masyarakat yang tidak memenuhi rekomendasi World Health Organization (WHO) dalam melakukan aktivitas fisik maupun latihan fisik. Akan tetapi di sisi yang lain, hal ini menimbulkan kontroversi karena perbedaan sifat olahraga yang cenderung sangat membutuhkan kemampuan fisik, sementara sebaliknya yang terjadi pada permainan eSports.
Seola...

dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU
2023-01-24
51618
Angka jumlah perokok di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2020, prevalensi perokok di Indonesia adalah sekitar 35,6% dari jumlah penduduk dewasa (usia 15 tahun ke atas). Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat prevalensi perokok tertinggi di dunia. Selain itu, jumlah perokok aktif di Indonesia juga cukup besar, sejumlah diperkirakan sekitar 57 juta orang.
Kesuburan pria ditentukan oleh jumlah dan kualitas sperma yang dihasilkan. Sperma yang sehat dan normal dikatakan memiliki ukuran yang cukup besar, bentuk yang normal, dan gerak yang aktif. Angka kesuburan pria dapat diukur dengan tingkat spermatozoa (sperma) yang sehat dan normal dalam satu ejakulasi. Menurut World Health Organization (WHO), jumlah sperma normal dalam setiap mililiter air mani adalah antara 15 juta sampai 200 juta sperma, dengan tingkat gerak sperma normal adalah antara 40% sampai 60% sperma yang bergerak. Namun, kehamilan masih dapat terjadi dengan jumlah sperma yang lebih rendah dari itu. Di sisi lain, angka kesuburan pria bervariasi dari individu ke individu. Beberapa pria mungkin memiliki jumlah sperma yang lebih rendah dari tingkat normal yang ditentukan oleh WHO, namun masih dapat memiliki kemampuan untuk membuahi. Faktor yang dapat mempengaruhi kesuburan pria meliputi usia, gaya hidup, kesehatan, dan faktor genetik.
Sayangnya, tidak ada data yang tersedia secara spesifik mengenai angka kesuburan pria di Indonesia. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat kesuburan pria di Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Diketahui bahwa merokok merupakan kebiasaan yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan pria
Merokok dapat mempengaruhi kualitas sperma dan kesuburan pria. Asap rokok mengandung berbagai jenis zat kimia yang dapat merusak sperma dan menyebabkan masalah kesuburan. Beberapa studi menunjukkan bahwa perokok memiliki jumlah sperm...

Dr. dr. Listya Tresnanti Mirtha, Sp.KO, Subsp.APK (K); dr. Bunga Listia Paramita; dr. Diczen
2023-01-24
76965
Tidak seperti kaum adam yang justru lebih suka bahkan terobsesi untuk melakukan latihan kekuatan otot karena percaya akan membuat tubuhnya lebih cepat berotot dan terlihat “sixpack”, apalagi jika ditambah dengan konsumsi suplemen penambah massa otot, kaum hawa biasanya melakukan latihan dengan tujuan mengatur berat badan serta alasan estetik dan pencitraan diri seperti ingin terlihat lebih langsing, seksi, dan cantik. Latihan kekuatan otot masih menjadi kekhawatiran sendiri bagi kaum hawa karena takut otot menjadi kekar dan maskulin.
Rekomendasi dari World Health Organization (WHO) untuk orang dewasa berusia 18–64 tahun adalah beraktivitas fisik secara teratur setidaknya 150–300 menit per minggu. Aktivitas fisik yang disarankan adalah aktivitas yang bersifat aerobik dan menguatkan otot. Dengan demikian, belumlah lengkap jika seseorang hanya melakukan aktivitas fisik dan latihan fisik tanpa diimbangi latihan kekuatan otot. Lalu, apakah anggapan bahwa latihan kekuatan otot dapat menjadikan tubuh kekar dan berotot seperti para binaraga tersebut benar?
Definisi dan Manfaat Latihan Kekuatan Otot
Di masyarakat, latihan kekuatan otot dikenal dengan berbagai istilah, seperti strength training (latihan kekuatan), resistance training (latihan ketahanan), atau weight training (latihan beban). Latihan kekuatan otot adalah latihan yang melatih otot dan saraf, yang dilakukan dengan cara memberikan beban kepada otot kemudian gerakan dilakukan secara berulang.
Latihan kekuatan otot memiliki berbagai manfaat, seperti menurunkan risiko terkena penyakit jantung, kanker, diabetes sebesar 10–17%,2 meningkatkan massa otot, meningkatkan kepadatan tulang, dan menurunkan lemak tubuh. Pada perempuan, latihan kekuatan otot di usia muda juga dapat mencegah osteoporosis pasca menopause. Oleh sebab itu, latihan kekuatan otot yang dimulai sejak muda sebenarnya merupakan investasi kebugar...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved