
dr. Assifa Swasti Anindita,MARS, dr. Tannia Sembiring
2024-03-18
4636
Open Heart Surgery adalah prosedur operasi jantung invasif dengan membuat sayatan di daerah dada untuk membuka tulang rusuk dan mengakses jantung secara langsung. Open Heart Surgery merupakan metode yang paling awal digunakan untuk menangani kasus penyakit jantung. Meski demikian, saat ini metode tersebut hanya digunakan untuk kondisi jantung tertentu, seperti pengangkatan tumor/keganasan pada jantung dan penyakit bawaan jantung pada anak, aneurisma, atau kondisi lainnya. Open Heart Surgery dapat dilakukan pada seluruh usia, dengan mempertimbangkan penyakit penyerta dan risiko komplikasi. Ketika pasien menjalani tindakan Open Heart Surgery, fungsi pernapasan dan aliran darah akan digantikan oleh mesin khusus, yaitu mesin paru jantung. Setelah operasi selesai, jantung dapat berdetak kembali dan berfungsi dengan normal.
Di Rumah Sakit Unversitas Indonesia (RSUI), sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan Open Heart Surgery, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menilai kondisi dan menetapkan indikasi. Selain menilai gejala dan melakukan pemeriksaan fisik, pasien juga akan diberikan pemeriksaan penunjang seperti ekokardiografi, Transesophageal ultrasound (TEE), CT Scan jantung dan/atau MRI jantung untuk mendapatkan gambaran jantung yang optimal. Jika pasien memiliki indikasi, maka persiapan Open Heart Surgery akan dilakukan. Persiapan tersebut meliputi konsultasi ke dokter spesialis lain untuk mencari risiko penyakit lainnya, pencegahan infeksi, dan pemantauan yang berkaitan dengan tindakan pembiusan.
Seperti tindakan operasi lainnya, Open Heart Surgery tentunya memiliki beberapa komplikasi di antaranya perdarahan, alergi, infeksi, dan kerusakan organ sekitar. Masyarakat juga sering mengaitkan prosedur Open Heart Surgery dengan kematian. Studi terbaru menunjukkan bahwa angka kematian akibat tindakan Op...

dr. Wahyu Ika Wardhani, M.Biomed, M.Gizi, Sp.GK(K)
2024-03-18
2759
Ibadah puasa merupakan kewajiban umat Islam yang dijalankan selama 1 bulan, yaitu sekitar 29 sampai 30 hari, dengan tidak makan dan minum selama jangka waktu tertentu dari pagi hingga petang. Puasa dilakukan mulai dari saat cahaya fajar muncul di kaki langit Timur, hingga saat piringan teratas matahari meninggalkan garis kaki langit Barat atau terbenam sempurna, kurang lebih 13 jam lamanya untuk wilayah di Indonesia.
Saat berpuasa, seorang yang sehat sekalipun, akan mengalami perubahan metabolisme akibat terjadinya perubahan metabolisme di tubuhnya. Seorang Diabetisi akan mengalami perlambatan dalam perubahan metabolisme tersebut, ditambah dengan konsumsi obat-obat pengendali gula darah, tentunya menyebabkan perlunya pengaturan makan yang khusus pada Diabetisi, dibandingkan orang sehat. Seorang diabetisi harus mendapatkan edukasi pra-Ramadhan, untuk dinilai tingkat risikonya dan belajar berpuasa, terutama untuk yang baru mengalami perubahan dalam pengobatan pengendalian gula darahnya.
Apakah seorang Diabetisi dapat berpuasa, jawabannya bisa. Namun sebaiknya, Diabetisi memeriksakan diri ke Dokter 6-8 minggu sebelum puasa. Salah satu persiapan yang penting untuk seorang Diabetisi dalam merencanakan puasa adalah pengaturan kecukupan makan dan minum, supaya tidak terjadi komplikasi yang tidak diharapkan seperti adanya kekurangan atau kelebihan gula darah, penurunan kesadaran, hingga risiko pengentalan darah yang dapat berujung serangan jantung atau stroke di kemudian hari.
Kebutuhan energi pada Diabetisi saat puasa, tidak mengalami perubahan yang bermakna, bila tidak ada perubahan aktivitas maupun penyulit lain. Untuk diabetisi yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, saat puasa dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kondisi status nutr...

Rumah Sakit Universitas Indonesia
2024-03-14
3437
RSUI memiliki salah satu layanan unggulan di bidang Ortopedi dan Traumatologi khususnya untuk Anda yang memiliki keluhan nyeri tulang belakang. Kami hadir dengan layanan berupa tindakan minimal invasif Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD).
Pembedahan dengan teknik endoskopi tulang belakang atau PELD adalah tindakan operatif menggunakan kamera mikro canggih yang dapat terhubung langsung dengan layar monitor, sehingga tampilan saraf terlihat pada layar dengan lebih jelas dengan demikian dokter dapat mengidentifikasi kondisi dan sasaran operasi secara lebih detail, dengan ini keakuratan pengoperasian menjadi lebih tinggi dan dapat menghindari terjadinya cedera. Dengan alat tersebut jepitan saraf pada tulang belakang dapat diambil hanya dengan menggunakan sayatan yang minimal pada kulit.
Seringkali pasien merasa khawatir untuk melakukan operasi tulang belakang, khawatir akan terjadi risiko yang timbul pasca operasi seperti kelumpuhan. Padahal hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena tingkat keberhasilan operasi ini dapat mencapai 98% dengan dukungan penggunaan teknologi terkini dan tim medis dan non medis multidisiplin, sehingga memperkecil risiko kerusakan saraf, jaringan dan lainnya di sekitar area ...

dr. Assifa Swasti Anindita,MARS, dr. Tannia Sembiring
2024-03-18
4636
Open Heart Surgery adalah prosedur operasi jantung invasif dengan membuat sayatan di daerah dada untuk membuka tulang rusuk dan mengakses jantung secara langsung. Open Heart Surgery merupakan metode yang paling awal digunakan untuk menangani kasus penyakit jantung. Meski demikian, saat ini metode tersebut hanya digunakan untuk kondisi jantung tertentu, seperti pengangkatan tumor/keganasan pada jantung dan penyakit bawaan jantung pada anak, aneurisma, atau kondisi lainnya. Open Heart Surgery dapat dilakukan pada seluruh usia, dengan mempertimbangkan penyakit penyerta dan risiko komplikasi. Ketika pasien menjalani tindakan Open Heart Surgery, fungsi pernapasan dan aliran darah akan digantikan oleh mesin khusus, yaitu mesin paru jantung. Setelah operasi selesai, jantung dapat berdetak kembali dan berfungsi dengan normal.
Di Rumah Sakit Unversitas Indonesia (RSUI), sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan Open Heart Surgery, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menilai kondisi dan menetapkan indikasi. Selain menilai gejala dan melakukan pemeriksaan fisik, pasien juga akan diberikan pemeriksaan penunjang seperti ekokardiografi, Transesophageal ultrasound (TEE), CT Scan jantung dan/atau MRI jantung untuk mendapatkan gambaran jantung yang optimal. Jika pasien memiliki indikasi, maka persiapan Open Heart Surgery akan dilakukan. Persiapan tersebut meliputi konsultasi ke dokter spesialis lain untuk mencari risiko penyakit lainnya, pencegahan infeksi, dan pemantauan yang berkaitan dengan tindakan pembiusan.
Seperti tindakan operasi lainnya, Open Heart Surgery tentunya memiliki beberapa komplikasi di antaranya perdarahan, alergi, infeksi, dan kerusakan organ sekitar. Masyarakat juga sering mengaitkan prosedur Open Heart Surgery dengan kematian. Studi terbaru menunjukkan bahwa angka kematian akibat tindakan Op...

dr. Wahyu Ika Wardhani, M.Biomed, M.Gizi, Sp.GK(K)
2024-03-18
2759
Ibadah puasa merupakan kewajiban umat Islam yang dijalankan selama 1 bulan, yaitu sekitar 29 sampai 30 hari, dengan tidak makan dan minum selama jangka waktu tertentu dari pagi hingga petang. Puasa dilakukan mulai dari saat cahaya fajar muncul di kaki langit Timur, hingga saat piringan teratas matahari meninggalkan garis kaki langit Barat atau terbenam sempurna, kurang lebih 13 jam lamanya untuk wilayah di Indonesia.
Saat berpuasa, seorang yang sehat sekalipun, akan mengalami perubahan metabolisme akibat terjadinya perubahan metabolisme di tubuhnya. Seorang Diabetisi akan mengalami perlambatan dalam perubahan metabolisme tersebut, ditambah dengan konsumsi obat-obat pengendali gula darah, tentunya menyebabkan perlunya pengaturan makan yang khusus pada Diabetisi, dibandingkan orang sehat. Seorang diabetisi harus mendapatkan edukasi pra-Ramadhan, untuk dinilai tingkat risikonya dan belajar berpuasa, terutama untuk yang baru mengalami perubahan dalam pengobatan pengendalian gula darahnya.
Apakah seorang Diabetisi dapat berpuasa, jawabannya bisa. Namun sebaiknya, Diabetisi memeriksakan diri ke Dokter 6-8 minggu sebelum puasa. Salah satu persiapan yang penting untuk seorang Diabetisi dalam merencanakan puasa adalah pengaturan kecukupan makan dan minum, supaya tidak terjadi komplikasi yang tidak diharapkan seperti adanya kekurangan atau kelebihan gula darah, penurunan kesadaran, hingga risiko pengentalan darah yang dapat berujung serangan jantung atau stroke di kemudian hari.
Kebutuhan energi pada Diabetisi saat puasa, tidak mengalami perubahan yang bermakna, bila tidak ada perubahan aktivitas maupun penyulit lain. Untuk diabetisi yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, saat puasa dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kondisi status nutr...

Rumah Sakit Universitas Indonesia
2024-03-14
3437
RSUI memiliki salah satu layanan unggulan di bidang Ortopedi dan Traumatologi khususnya untuk Anda yang memiliki keluhan nyeri tulang belakang. Kami hadir dengan layanan berupa tindakan minimal invasif Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD).
Pembedahan dengan teknik endoskopi tulang belakang atau PELD adalah tindakan operatif menggunakan kamera mikro canggih yang dapat terhubung langsung dengan layar monitor, sehingga tampilan saraf terlihat pada layar dengan lebih jelas dengan demikian dokter dapat mengidentifikasi kondisi dan sasaran operasi secara lebih detail, dengan ini keakuratan pengoperasian menjadi lebih tinggi dan dapat menghindari terjadinya cedera. Dengan alat tersebut jepitan saraf pada tulang belakang dapat diambil hanya dengan menggunakan sayatan yang minimal pada kulit.
Seringkali pasien merasa khawatir untuk melakukan operasi tulang belakang, khawatir akan terjadi risiko yang timbul pasca operasi seperti kelumpuhan. Padahal hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena tingkat keberhasilan operasi ini dapat mencapai 98% dengan dukungan penggunaan teknologi terkini dan tim medis dan non medis multidisiplin, sehingga memperkecil risiko kerusakan saraf, jaringan dan lainnya di sekitar area ...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved