Artikel Kesehatan

Penyakit Hernia Bisa Diatasi dengan Herniotomi dan Hernioplasti

KSM Bedah

2025-11-07

950

Penyakit Hernia Bisa Diatasi dengan Herniotomi dan Hernioplasti

Apa Itu Hernia?

Hernia adalah kondisi saat sebagian organ tubuh menonjol keluar melalui otot atau jaringan sekitar yang melemah. Kondisi ini bisa terjadi di area perut, lipatan paha, pusar, atau kantong kemaluan dan jika tidak ditangani, bisa menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, atau komplikasi yang serius.

Gejala yang Umum Terjadi

Beberapa ciri hernia yang sering ditemukan meliputi:

  • Benjolan yang muncul saat berdiri, batuk, atau mengedan
  • Rasa nyeri atau perih di area benjolan
  • Tekanan atau rasa penuh di perut
  • Rasa tidak nyaman setelah mengangkat beban berat
  • Benjolan dapat menjalar hingga kantong kemaluan pada pria

Gejala dapat memburuk seiring waktu jika tidak ditangani.

Faktor Risiko Hernia

Faktor-faktor berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya hernia:

  • Mengangkat beban berat berulang
  • Batuk kronis
  • Obesitas
  • Riwayat operasi perut
  • Konstipasi kronis
  • Kehamilan
  • Kelemahan jaringan atau faktor genetik

Komplikasi Jika Tidak Ditangani

Hernia tidak dapat membaik sendiri. Jika tidak ditangani, dapat terjadi:

  • Inkarserasi: jaringan terjebak dan tidak bisa kembali ke posisi normal
  • Strangulasi: aliran darah ke jaringan terhenti — kondisi gawat darurat
  • Nyeri kronis
  • Masalah pencernaan (terutama hernia ventral)

Kondisi seperti strangulasi memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan jaringan.

Tindakan Herniotomi dan Hernioplasti

Herniotomi (pengangkatan kantung hernia) dan hernioplasti (perbaikan dinding hernia dengan mesh atau jaringan sintetis) adalah prosedur operasi yang umum dilakukan untuk memperkuat area dinding yang lemah dan mencegah kambuhnya hernia.

Keunggulan tindakan ini:

  • Area yang melemah diperkuat dengan mesh, ...

Peran Akupunktur Medik pada Nyeri Bahu

dr. Shinta Eka Kusuma Dewi dan Dr. dr. Wahyuningsih Djaali, M.Biomed, Sp.Ak

2025-10-30

613

Peran Akupunktur Medik pada Nyeri Bahu

Nyeri Bahu, Keluhan yang Kerap Diabaikan

Berdasarkan studi terbaru di Indonesia, prevalensi nyeri bahu pada berbagai populasi mencapai 30% hingga 47%. Kondisi ini banyak ditemukan pada kelompok pekerja seperti tenaga kesehatan, pekerja konstruksi, karyawan kantoran, maupun pelajar. Angka tersebut menunjukkan bahwa nyeri bahu merupakan masalah muskuloskeletal yang cukup umum di Indonesia, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas kerja.

Prevalensi nyeri bahu juga cenderung meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa faktor risiko yang berperan antara lain postur kerja yang tidak ergonomis, beban kerja fisik yang berat, serta kurangnya peregangan atau latihan fisik secara rutin.

Mengenal Lebih Dekat Nyeri Bahu

Nyeri bahu adalah rasa sakit atau ketidaknyamanan yang muncul pada area sendi bahu atau jaringan di sekitarnya seperti otot, tendon, bursa, dan ligamen. Keluhan ini dapat bersifat akut maupun kronis, dan sering kali disertai dengan keterbatasan gerak, kekakuan, serta pembatasan fungsi bahu.

Seseorang yang mengalami nyeri bahu biasanya kesulitan melakukan aktivitas seperti mengangkat tangan ke atas, menggapai punggung, mengenakan pakaian, mengangkat benda berat, atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan gerakan lengan bebas.

Akupunktur sebagai Terapi Nyeri Bahu

Akupunktur merupakan metode terapi yang melibatkan penusukan jarum halus pada titik-titik tertentu di tubuh (titik akupunktur). Pada kasus nyeri bahu, terapi akupunktur terbukti efektif untuk:

  • Mengurangi rasa nyeri
  • Membuat otot lebih relaks
  • Mengurangi ketegangan otot di sekitar bahu
  • Meningkatkan sirkulasi darah
  • Mempercepat penyembuhan jaringan yang mengalami peradangan

Selain itu, akupunktur termasuk terapi yang relatif aman dengan risiko efek samping yang rendah dibandingkan penggunaan obat-obatan.

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak

dr. Amien Suharti, Sp.KFR (Ped-K), FIPM (USG)

2025-10-30

23873

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak

Gangguan pendengaran pada anak sering kali tidak terdeteksi sejak dini dan baru diketahui setelah anak menunjukkan keterlambatan dalam berbicara. Padahal, pemeriksaan pendengaran sebaiknya dilakukan sejak bayi baru lahir. Paling lambat, pada usia 6 bulan sudah dapat diketahui apakah terdapat gangguan pendengaran atau tidak. Deteksi dini ini penting agar intervensi dapat segera dilakukan sehingga perkembangan anak, terutama kemampuan berbicara dan berbahasa, dapat optimal.

Perkembangan Otak dan Pendengaran

Perkembangan otak, khususnya bagian yang berperan dalam pendengaran, dimulai sejak masa kehamilan dan mencapai puncaknya pada awal kehidupan. Setelah usia 2–3 tahun, kemampuan adaptasi otak terhadap stimulasi pendengaran akan menurun. Sayangnya, pada usia inilah sebagian besar orang tua baru menyadari adanya gangguan dan membawa anak untuk diperiksa. Akibatnya, masa emas perkembangan otak sudah terlewati dan intervensi menjadi kurang efektif.

Metode Deteksi Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran pada bayi dapat dideteksi dengan dua metode utama, yaitu:

  1. Auditory Brainstem Response (ABR) – mengukur respons saraf pendengaran terhadap suara.
  2. Otoacoustic Emission (OAE) – mengukur gelombang suara yang dihasilkan oleh koklea (rambut halus di telinga bagian dalam) sebagai respons terhadap rangsangan suara.

Skrining Pendengaran oleh Orang Tua

Selain pemeriksaan medis, orang tua juga dapat memperhatikan beberapa tanda perkembangan pendengaran anak di rumah, seperti:

  • Bayi mulai mengoceh pada usia sekitar 4 bulan.
  • Menoleh saat mendengar suara orang berbicara.
  • Mencari sumber suara yang tidak terlihat.
  • Menunjukkan ketertarikan terhadap mainan yang mengeluarkan bunyi.

Berikut modifikasi tes daya dengar dari Kementerian Kesehatan (Depkes) 2010 yang dapat menjadi panduan bagi orang tua:

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved