
dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR
2025-11-20
2276
Osteoporosis adalah penyakit yang sering tidak disadari hingga terjadi patah tulang. Kondisi ini muncul ketika tulang menjadi lemah dan rapuh akibat hilangnya massa tulang lebih cepat dibanding kemampuan tubuh untuk menggantikannya. Akibatnya, kepadatan tulang menurun dan risiko patah tulang meningkat.
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko osteoporosis, mulai dari genetik, gaya hidup, hingga kondisi medis tertentu.
Osteoporosis dikenal sebagai “silent disease” karena sering tidak menimbulkan gejala apa pun sampai terjadi patah tulang. Namun, ada tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai, antara lain:

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, FICS
2025-11-19
23663
Batu saluran kemih (BSK) terjadi ketika mineral dan garam mengkristal dalam ginjal atau sepanjang saluran kemih. Berdasarkan lokasinya, batu dapat muncul sebagai batu ginjal, batu ureter, batu kandung kemih, hingga batu uretra. Kondisi ini lebih sering dialami pria usia 30–50 tahun dan bisa menyebabkan nyeri hebat hingga komplikasi serius seperti infeksi dan kerusakan ginjal.
BSK terbentuk dari penumpukan zat seperti kalsium, oksalat, atau asam urat dalam urin. Jika kristalnya kecil, tubuh bisa mengeluarkannya secara alami. Namun ketika ukurannya membesar, batu dapat menyumbat saluran kemih dan memicu nyeri intens.
Beberapa tanda umum meliputi:
Jika gejala ini muncul, segera lakukan pemeriksaan medis untuk mencegah komplikasi.
Deteksi dini membantu memutus risiko kerusakan organ. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan meliputi:
Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko BSK antara lain:

dr. Faisal Parlindungan, M.Ked(PD), Sp.PD-KR
2025-11-19
1153
Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun yang kompleks karena memengaruhi banyak sistem tubuh. Manifestasi klinis yang muncul dapat berbeda-beda sehingga disebut juga dengan penyakit “seribu wajah”. Di Asia Pasifik, angka kejadian LES dapat mencapai 4,3–4,53 kasus tiap 100.000 orang per tahunnya. Sementara itu, bersumber dari data poliklinik reumatologi di beberapa rumah sakit Indonesia, kunjungan pasien lupus meningkat dari 17,9–27,2% pada tahun 2015 menjadi 30,3–58% pada tahun 2017.
Angka kejadian lupus lebih sering terjadi pada perempuan berusia muda berkisar antara 15 hingga 45 tahun, dengan rasio perbandingan dengan laki-laki 15:1 hingga 22:1. Individu yang memiliki riwayat keluarga dengan lupus juga memiliki risiko lebih tinggi. Beberapa variasi gejala yang muncul dapat berupa ruam kulit berbentuk kupu-kupu di wajah, nyeri sendi tanpa sebab jelas, cepat lelah, nafsu makan menurun, demam berkepanjangan, serta gangguan ginjal atau pernapasan.Jika mengalami beberapa gejala ini, terutama dalam waktu yang lama, maka pemeriksaan lebih lanjut sangat disarankan untuk mendeteksi lupus sejak dini dan mencegah komplikasi.
Diagnosis LES ditegakkan berdasarkan evaluasi gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai kriteria klasifikasi yang ditetapkan oleh American College of Rheumatology (ACR) dan European League Against Rheumatism (EULAR) 2019. Setiap pasien yang dicurigai LES memerlukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis, mengetahui keterlibatan organ, dan menentukan derajat aktivitas penyakit. Pemeriksaan meliputi tes laboratorium dasar, autoantibodi, komplemen, dan penilaian morbiditas penyerta, serta pemeriksaan lain yang disesuaikan dengan indikasi tertentu.
Pemeriksaan laboratorium dasar mencakup Darah Perifer Lengkap (DPL) dan Laju Endap Darah ...

dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR
2025-11-20
2276
Osteoporosis adalah penyakit yang sering tidak disadari hingga terjadi patah tulang. Kondisi ini muncul ketika tulang menjadi lemah dan rapuh akibat hilangnya massa tulang lebih cepat dibanding kemampuan tubuh untuk menggantikannya. Akibatnya, kepadatan tulang menurun dan risiko patah tulang meningkat.
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko osteoporosis, mulai dari genetik, gaya hidup, hingga kondisi medis tertentu.
Osteoporosis dikenal sebagai “silent disease” karena sering tidak menimbulkan gejala apa pun sampai terjadi patah tulang. Namun, ada tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai, antara lain:

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, FICS
2025-11-19
23663
Batu saluran kemih (BSK) terjadi ketika mineral dan garam mengkristal dalam ginjal atau sepanjang saluran kemih. Berdasarkan lokasinya, batu dapat muncul sebagai batu ginjal, batu ureter, batu kandung kemih, hingga batu uretra. Kondisi ini lebih sering dialami pria usia 30–50 tahun dan bisa menyebabkan nyeri hebat hingga komplikasi serius seperti infeksi dan kerusakan ginjal.
BSK terbentuk dari penumpukan zat seperti kalsium, oksalat, atau asam urat dalam urin. Jika kristalnya kecil, tubuh bisa mengeluarkannya secara alami. Namun ketika ukurannya membesar, batu dapat menyumbat saluran kemih dan memicu nyeri intens.
Beberapa tanda umum meliputi:
Jika gejala ini muncul, segera lakukan pemeriksaan medis untuk mencegah komplikasi.
Deteksi dini membantu memutus risiko kerusakan organ. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan meliputi:
Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko BSK antara lain:

dr. Faisal Parlindungan, M.Ked(PD), Sp.PD-KR
2025-11-19
1153
Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun yang kompleks karena memengaruhi banyak sistem tubuh. Manifestasi klinis yang muncul dapat berbeda-beda sehingga disebut juga dengan penyakit “seribu wajah”. Di Asia Pasifik, angka kejadian LES dapat mencapai 4,3–4,53 kasus tiap 100.000 orang per tahunnya. Sementara itu, bersumber dari data poliklinik reumatologi di beberapa rumah sakit Indonesia, kunjungan pasien lupus meningkat dari 17,9–27,2% pada tahun 2015 menjadi 30,3–58% pada tahun 2017.
Angka kejadian lupus lebih sering terjadi pada perempuan berusia muda berkisar antara 15 hingga 45 tahun, dengan rasio perbandingan dengan laki-laki 15:1 hingga 22:1. Individu yang memiliki riwayat keluarga dengan lupus juga memiliki risiko lebih tinggi. Beberapa variasi gejala yang muncul dapat berupa ruam kulit berbentuk kupu-kupu di wajah, nyeri sendi tanpa sebab jelas, cepat lelah, nafsu makan menurun, demam berkepanjangan, serta gangguan ginjal atau pernapasan.Jika mengalami beberapa gejala ini, terutama dalam waktu yang lama, maka pemeriksaan lebih lanjut sangat disarankan untuk mendeteksi lupus sejak dini dan mencegah komplikasi.
Diagnosis LES ditegakkan berdasarkan evaluasi gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai kriteria klasifikasi yang ditetapkan oleh American College of Rheumatology (ACR) dan European League Against Rheumatism (EULAR) 2019. Setiap pasien yang dicurigai LES memerlukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis, mengetahui keterlibatan organ, dan menentukan derajat aktivitas penyakit. Pemeriksaan meliputi tes laboratorium dasar, autoantibodi, komplemen, dan penilaian morbiditas penyerta, serta pemeriksaan lain yang disesuaikan dengan indikasi tertentu.
Pemeriksaan laboratorium dasar mencakup Darah Perifer Lengkap (DPL) dan Laju Endap Darah ...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved