Artikel Kesehatan

Deteksi Dini Osteoporosis: Gejala, Faktor Risiko, dan Tes DEXA untuk Mencegah Patah Tulang

dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR

2025-11-20

2276

Deteksi Dini Osteoporosis: Gejala, Faktor Risiko, dan Tes DEXA untuk Mencegah Patah Tulang

Osteoporosis adalah penyakit yang sering tidak disadari hingga terjadi patah tulang. Kondisi ini muncul ketika tulang menjadi lemah dan rapuh akibat hilangnya massa tulang lebih cepat dibanding kemampuan tubuh untuk menggantikannya. Akibatnya, kepadatan tulang menurun dan risiko patah tulang meningkat.

Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Osteoporosis?

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko osteoporosis, mulai dari genetik, gaya hidup, hingga kondisi medis tertentu.

  1. Faktor Genetik dan Demografis
    1. Riwayat keluarga dengan osteoporosis
    2. Pria dan wanita berusia di atas 50 tahun
  2. Faktor Gaya Hidup
    1. Indeks massa tubuh (IMT) rendah
    2. Amenore sekunder lebih dari 1 tahun (misalnya akibat olahraga berlebihan)
    3. Gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia
  3. Faktor Pola Hidup
    1. Kebiasaan merokok
    2. Konsumsi alkohol berlebihan (lebih dari tiga gelas per hari dalam jangka panjang)
    3. Asupan kalsium yang rendah
    4. Kekurangan vitamin D akibat minim paparan sinar matahari
    5. Kurang aktivitas fisik
  4. Faktor Riwayat Kesehatan
    1. Rheumatoid arthritis
    2. Penyakit ginjal kronis
    3. Hiperparatiroidisme atau hipertiroidisme
    4. Menopause dini (alami maupun karena operasi)
    5. Terapi hormon untuk kanker prostat atau payudara
    6. Konsumsi obat tertentu seperti kortikosteroid lebih dari tiga bulan, obat antikejang, atau pengencer darah
    7. Kondisi yang mengurangi kemampuan bergerak, seperti cedera tulang belakang

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis dikenal sebagai “silent disease” karena sering tidak menimbulkan gejala apa pun sampai terjadi patah tulang. Namun, ada tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Gusi menyusut akibat berkurangnya massa tulang rahang
  • Kekuatan genggaman ta...

Jangan Sepelekan! Deteksi Dini dan Pencegahan Batu Saluran Kemih

Dr. Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, FICS

2025-11-19

23663

Jangan Sepelekan! Deteksi Dini dan Pencegahan Batu Saluran Kemih

Apa Itu Batu Saluran Kemih?

Batu saluran kemih (BSK) terjadi ketika mineral dan garam mengkristal dalam ginjal atau sepanjang saluran kemih. Berdasarkan lokasinya, batu dapat muncul sebagai batu ginjal, batu ureter, batu kandung kemih, hingga batu uretra. Kondisi ini lebih sering dialami pria usia 30–50 tahun dan bisa menyebabkan nyeri hebat hingga komplikasi serius seperti infeksi dan kerusakan ginjal.

Kenapa Batu Saluran Kemih Bisa Terbentuk?

BSK terbentuk dari penumpukan zat seperti kalsium, oksalat, atau asam urat dalam urin. Jika kristalnya kecil, tubuh bisa mengeluarkannya secara alami. Namun ketika ukurannya membesar, batu dapat menyumbat saluran kemih dan memicu nyeri intens.

Gejala Batu Saluran Kemih yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda umum meliputi:

  • Nyeri hebat di punggung bawah, pinggang, atau perut
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Urin kemerahan atau kecokelatan (karena darah)
  • Hasrat berkemih meningkat atau mendadak
  • Mual dan muntah
  • Demam dan menggigil saat terjadi infeksi

Jika gejala ini muncul, segera lakukan pemeriksaan medis untuk mencegah komplikasi.

Pentingnya Deteksi Dini

Deteksi dini membantu memutus risiko kerusakan organ. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan meliputi:

  • Urinalisis: mengecek darah, kristal, atau infeksi
  • Pencitraan (USG, CT-Scan, X-ray): menentukan lokasi dan ukuran batu
  • Tes darah: menilai fungsi ginjal dan kadar zat pemicu batu

Faktor Risiko Batu Saluran Kemih

Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko BSK antara lain:

  1. Dehidrasi: urin lebih pekat memicu kristalisasi
  2. Pola makan tinggi garam, gula, dan protein hewani
  3. Obesitas: mengubah keseimbangan kimia tubuh
  4. ...

Deteksi Dini Lupus: Kenali Gejala, Pemeriksaan, dan Pentingnya Diagnosis Cepat

dr. Faisal Parlindungan, M.Ked(PD), Sp.PD-KR

2025-11-19

1153

Deteksi Dini Lupus: Kenali Gejala, Pemeriksaan, dan Pentingnya Diagnosis Cepat

Mengapa Deteksi Lupus Itu Penting?

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun yang kompleks karena memengaruhi banyak sistem tubuh. Manifestasi klinis yang muncul dapat berbeda-beda sehingga disebut juga dengan penyakit “seribu wajah”. Di Asia Pasifik, angka kejadian LES dapat mencapai 4,3–4,53 kasus tiap 100.000 orang per tahunnya. Sementara itu, bersumber dari data poliklinik reumatologi di beberapa rumah sakit Indonesia, kunjungan pasien lupus meningkat dari 17,9–27,2% pada tahun 2015 menjadi 30,3–58% pada tahun 2017.

Siapa Saja yang Perlu Diperiksa?

Angka kejadian lupus lebih sering terjadi pada perempuan berusia muda berkisar antara 15 hingga 45 tahun, dengan rasio perbandingan dengan laki-laki 15:1 hingga 22:1. Individu yang memiliki riwayat keluarga dengan lupus juga memiliki risiko lebih tinggi. Beberapa variasi gejala yang muncul dapat berupa ruam kulit berbentuk kupu-kupu di wajah, nyeri sendi tanpa sebab jelas, cepat lelah, nafsu makan menurun, demam berkepanjangan, serta gangguan ginjal atau pernapasan.Jika mengalami beberapa gejala ini, terutama dalam waktu yang lama, maka pemeriksaan lebih lanjut sangat disarankan untuk mendeteksi lupus sejak dini dan mencegah komplikasi.

Diagnosis LES ditegakkan berdasarkan evaluasi gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai kriteria klasifikasi yang ditetapkan oleh American College of Rheumatology (ACR) dan European League Against Rheumatism (EULAR) 2019. Setiap pasien yang dicurigai LES memerlukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis, mengetahui keterlibatan organ, dan menentukan derajat aktivitas penyakit. Pemeriksaan meliputi tes laboratorium dasar, autoantibodi, komplemen, dan penilaian morbiditas penyerta, serta pemeriksaan lain yang disesuaikan dengan indikasi tertentu.

Apa Saja yang Diperiksa?

Pemeriksaan laboratorium dasar mencakup Darah Perifer Lengkap (DPL) dan Laju Endap Darah ...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved