Artikel Kesehatan

Coiling Aneurisma: Prosedur minimal invasive untuk penanganan Pendarahan Otak

Subdirektorat Pemasaran, PKRS dan Kemitraan

2025-11-26

514

Coiling Aneurisma: Prosedur minimal invasive untuk penanganan Pendarahan Otak

Apa itu Aneurisma Otak?

Aneurisma Otak adalah kondisi di mana dinding pembuluh darah di otak membentuk “benjolan” seperti balon yang disebut aneurisma. Bila aneurisma ini pecah, dapat menyebabkan pendarahan otak yang serius, seringkali mengancam jiwa. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan tepat sangat penting.

Mengapa Coiling?

Selama ini, untuk menangani aneurisma otak tersedia dua pilihan utama, yaitu operasi terbuka (clipping) dan metode endovaskular. Metode endovaskular terutama coiling telah berkembang pesat dan kini menjadi pilihan utama untuk banyak kasus karena sifatnya yang minimal invasif. Coiling dilakukan tanpa membuka tengkorak; dokter memasukkan kateter kecil melalui pembuluh darah, biasanya dari lipat paha atau pergelangan tangan, untuk membawa kawat coil halus ke dalam aneurisma. Coil kemudian digulung hingga mengisi kantong aneurisma sehingga aliran darah ke dalamnya berhenti, yang bertujuan mencegah risiko pecah dan pendarahan otak.

Kenali Gejala Aneurisma Otak Sejak Dini Deteksi Dini Sangat Penting!

Terkadang aneurisma otak tidak menunjukkan gejala sampai terjadi pecah, tetapi ada tanda-tanda yang patut diwaspadai, antara lain:

  • Nyeri di belakang mata atau di bagian belakang kepala
  • Kelemahan wajah
  • Sakit kepala hebat mendadak
  • Muntah
  • Sakit kepala yang tak kunjung hilang
  • Gangguan penglihatan
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran

Apabila Anda mengalami salah satu atau lebih gejala di atas, segeralah periksa ke pusat neurologi/perawatan syaraf. Deteksi dini dan tindakan cepat seringkali menyelamatkan nyawa.

Keunggulan Coiling: Efisien, Presisi, Pemulihan Lebih Cepat

  • Efisien: Prosedur tidak memerlukan pembedahan besar sehingga lebih singkat, dan seringkali cukup satu hari rawat inap atau beberapa hari saja.
  • Presisi: Kateter dan coil memungkinkan penempatan langsung ke lokasi aneur...

Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV: Layanan Vaksinasi dan Deteksi Dini di RSUI

Promosi Kesehatan RSUI

2025-11-20

615

Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV: Layanan Vaksinasi dan Deteksi Dini di RSUI

Kanker Serviks Masih Jadi Ancaman Serius

Peringatan World Cancer Day pada 4 Februari 2025 kembali menegaskan bahwa kanker masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Berdasarkan Globocan 2024, terdapat lebih dari 19 juta kasus baru kanker dan 9 juta kematian global. Di Indonesia, angka kejadian kanker mencapai 136 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2022).

Kanker serviks menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan. Pada tahun 2020, sekitar 1 juta anak menjadi yatim piatu, dan hampir setengahnya kehilangan ibu akibat kanker serviks. Setiap jam, dua perempuan Indonesia meninggal karena penyakit ini.

Apa Itu Kanker Serviks dan Siapa Penyebab Utamanya?

Kanker serviks adalah kanker pada leher rahim yang menempati peringkat keempat kanker tersering pada perempuan. Diperkirakan terdapat 604.000 kasus baru dan 342.000 kematian setiap tahun.

Lebih dari 95% kasus disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV), virus yang sangat umum dan ditularkan melalui kontak seksual. Tipe HPV risiko tinggi, terutama HPV 16 dan 18, bertanggung jawab atas >70% kasus kanker serviks di seluruh dunia.

Pencegahan Primer: Vaksin HPV Melindungi Sejak Dini

Jenis Vaksin yang Tersedia

Tiga jenis vaksin HPV yang digunakan secara global:

  • Bivalen (Cervarix): HPV 16, 18
  • Kuadrivalen (Gardasil): HPV 6, 11, 16, 18
  • Nonavalent (Gardasil 9): sembilan tipe HPV penyebab kanker dan kutil kelamin

Semua vaksin ini telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah infeksi HPV risiko tinggi serta lesi prakanker.

Siapa yang Perlu Mendapatkan Vaksinasi?

  • Anak perempuan dan laki-laki usia 9–14 tahun → paling optimal sebelum aktif secara seksual
  • Dosis:
    • 2 dosis (usia 9–14 tahun)
    • 3 dosis (dewasa atau immunocompromised)
  • Vaksin tetap bermanfaat hingga usia dewasa muda...

Deteksi Dini Osteoporosis: Gejala, Faktor Risiko, dan Tes DEXA untuk Mencegah Patah Tulang

dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD-KR

2025-11-20

2276

Deteksi Dini Osteoporosis: Gejala, Faktor Risiko, dan Tes DEXA untuk Mencegah Patah Tulang

Osteoporosis adalah penyakit yang sering tidak disadari hingga terjadi patah tulang. Kondisi ini muncul ketika tulang menjadi lemah dan rapuh akibat hilangnya massa tulang lebih cepat dibanding kemampuan tubuh untuk menggantikannya. Akibatnya, kepadatan tulang menurun dan risiko patah tulang meningkat.

Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Osteoporosis?

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko osteoporosis, mulai dari genetik, gaya hidup, hingga kondisi medis tertentu.

  1. Faktor Genetik dan Demografis
    1. Riwayat keluarga dengan osteoporosis
    2. Pria dan wanita berusia di atas 50 tahun
  2. Faktor Gaya Hidup
    1. Indeks massa tubuh (IMT) rendah
    2. Amenore sekunder lebih dari 1 tahun (misalnya akibat olahraga berlebihan)
    3. Gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia
  3. Faktor Pola Hidup
    1. Kebiasaan merokok
    2. Konsumsi alkohol berlebihan (lebih dari tiga gelas per hari dalam jangka panjang)
    3. Asupan kalsium yang rendah
    4. Kekurangan vitamin D akibat minim paparan sinar matahari
    5. Kurang aktivitas fisik
  4. Faktor Riwayat Kesehatan
    1. Rheumatoid arthritis
    2. Penyakit ginjal kronis
    3. Hiperparatiroidisme atau hipertiroidisme
    4. Menopause dini (alami maupun karena operasi)
    5. Terapi hormon untuk kanker prostat atau payudara
    6. Konsumsi obat tertentu seperti kortikosteroid lebih dari tiga bulan, obat antikejang, atau pengencer darah
    7. Kondisi yang mengurangi kemampuan bergerak, seperti cedera tulang belakang

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis dikenal sebagai “silent disease” karena sering tidak menimbulkan gejala apa pun sampai terjadi patah tulang. Namun, ada tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Gusi menyusut akibat berkurangnya massa tulang rahang
  • Kekuatan genggaman ta...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved