
Promosi Kesehatan (Aghitsna Nur Rohmah)
2026-01-06
474
Perkembangan urbanisasi, kemajuan industri pangan, dan gaya hidup serba cepat telah mengubah pola makan masyarakat Indonesia secara signifikan. Salah satu perubahan paling mencolok adalah meningkatnya konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) atau makanan ultra-olahan.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020, sekitar 45% total asupan energi masyarakat Indonesia berasal dari makanan olahan dan ultra-olahan, dengan proporsi yang lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan remaja. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena konsumsi UPF berkaitan erat dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, serta penyakit kardiovaskular.
Fenomena ini juga terjadi secara global. Laporan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa lebih dari 55% asupan kalori harian masyarakat Amerika Serikat berasal dari UPF. Bahkan pada kelompok usia 1–18 tahun, angkanya mencapai hampir 62% berdasarkan data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2021–2023. Tren serupa dilaporkan meningkat di berbagai negara seiring perubahan gaya hidup modern.
Ultra-Processed Foods (UPF) adalah makanan yang diproduksi melalui proses industri kompleks, menggunakan formulasi zat turunan pangan dan berbagai bahan tambahan pangan seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, serta penambah rasa.
Berbeda dengan makanan olahan sederhana (misalnya tempe, keju, atau roti), UPF umumnya:
Contoh UPF yang umum dikonsumsi antara lain:

KSM Gizi
2026-01-05
150
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan gangguan hormonal yang umum terjadi pada perempuan usia reproduktif. Kondisi ini ditandai dengan ketidakseimbangan hormon, terutama peningkatan hormon androgen, yang dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi, kesulitan ovulasi, hingga risiko gangguan metabolik seperti resistensi insulin. Salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan PCOS adalah penerapan pola makan sehat dan seimbang berbasis bukti ilmiah.
Sebagian besar pasien PCOS mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh kurang responsif terhadap hormon insulin. Keadaan ini dapat memicu peningkatan kadar gula darah dan berkontribusi terhadap obesitas serta diabetes melitus tipe 2. Pola makan yang tepat berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi peradangan kronis, serta membantu menjaga keseimbangan hormon.
Pendekatan nutrisi pada PCOS tidak berfokus pada pembatasan ekstrem, melainkan pada pemilihan jenis makanan yang berkualitas dan pengaturan komposisi gizi yang tepat.
1. Karbohidrat Kompleks dan Tinggi Serat
Pasien PCOS tidak perlu menghindari karbohidrat sepenuhnya. Dianjurkan untuk memilih karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah agar kadar gula darah lebih stabil. Contoh sumber karbohidrat yang dianjurkan antara lain:
Asupan serat yang cukup membantu memperlambat penyerapan glukosa dan mendukung pengendalian berat badan.
2. Protein Berkualitas
Protein berperan penting dalam menjaga rasa kenya...

drg. Nissia Ananda, Sp.BM
2026-01-05
2172
Impaksi gigi bungsu adalah kondisi ketika gigi bungsu (geraham ketiga) gagal tumbuh secara normal di lengkung rahang. Hal ini dapat terjadi karena posisi gigi yang tidak tepat, kekurangan ruang, atau terhalang oleh gigi lain, tulang rahang, maupun jaringan gusi di sekitarnya.
Gigi bungsu umumnya mulai tumbuh pada usia 17–25 tahun. Namun, tidak semua orang memiliki ruang rahang yang cukup untuk pertumbuhan gigi ini, sehingga gigi bungsu menjadi terjebak dan tidak dapat erupsi dengan sempurna.
Diagnosis impaksi gigi bungsu tidak dapat ditegakkan hanya dari pemeriksaan visual, melainkan memerlukan pemeriksaan radiologi (foto rontgen gigi) untuk melihat posisi gigi secara menyeluruh.
Gigi bungsu (Geraham ketiga) mengalami impaksi karena tidak memiliki cukup ruang untuk masuk atau berkembang secara normal.
Gigi bungsu biasanya muncul antara usia 17 dan 25 tahun. Beberapa orang memiliki gigi bungsu yang muncul tanpa masalah dan sejajar dengan gigi lainnya di belakang gigi geraham kedua. Namun, dalam banyak kasus, mulut terlalu penuh (tidak ada ruang) untuk gigi bungsu berkembang secara normal sehingga menjadi terperangkap (terbentur).
Gigi bungsu yang mengalami impaksi dapat muncul sebagian sehingga sebagian mahkota terlihat (impaksi sebagian), atau mungkin tidak pernah menembus gusi (impaksi penuh). B...

Promosi Kesehatan (Aghitsna Nur Rohmah)
2026-01-06
474
Perkembangan urbanisasi, kemajuan industri pangan, dan gaya hidup serba cepat telah mengubah pola makan masyarakat Indonesia secara signifikan. Salah satu perubahan paling mencolok adalah meningkatnya konsumsi Ultra-Processed Foods (UPF) atau makanan ultra-olahan.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2020, sekitar 45% total asupan energi masyarakat Indonesia berasal dari makanan olahan dan ultra-olahan, dengan proporsi yang lebih tinggi pada kelompok anak-anak dan remaja. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena konsumsi UPF berkaitan erat dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, serta penyakit kardiovaskular.
Fenomena ini juga terjadi secara global. Laporan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa lebih dari 55% asupan kalori harian masyarakat Amerika Serikat berasal dari UPF. Bahkan pada kelompok usia 1–18 tahun, angkanya mencapai hampir 62% berdasarkan data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2021–2023. Tren serupa dilaporkan meningkat di berbagai negara seiring perubahan gaya hidup modern.
Ultra-Processed Foods (UPF) adalah makanan yang diproduksi melalui proses industri kompleks, menggunakan formulasi zat turunan pangan dan berbagai bahan tambahan pangan seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, serta penambah rasa.
Berbeda dengan makanan olahan sederhana (misalnya tempe, keju, atau roti), UPF umumnya:
Contoh UPF yang umum dikonsumsi antara lain:

KSM Gizi
2026-01-05
150
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan gangguan hormonal yang umum terjadi pada perempuan usia reproduktif. Kondisi ini ditandai dengan ketidakseimbangan hormon, terutama peningkatan hormon androgen, yang dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi, kesulitan ovulasi, hingga risiko gangguan metabolik seperti resistensi insulin. Salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan PCOS adalah penerapan pola makan sehat dan seimbang berbasis bukti ilmiah.
Sebagian besar pasien PCOS mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh kurang responsif terhadap hormon insulin. Keadaan ini dapat memicu peningkatan kadar gula darah dan berkontribusi terhadap obesitas serta diabetes melitus tipe 2. Pola makan yang tepat berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi peradangan kronis, serta membantu menjaga keseimbangan hormon.
Pendekatan nutrisi pada PCOS tidak berfokus pada pembatasan ekstrem, melainkan pada pemilihan jenis makanan yang berkualitas dan pengaturan komposisi gizi yang tepat.
1. Karbohidrat Kompleks dan Tinggi Serat
Pasien PCOS tidak perlu menghindari karbohidrat sepenuhnya. Dianjurkan untuk memilih karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah agar kadar gula darah lebih stabil. Contoh sumber karbohidrat yang dianjurkan antara lain:
Asupan serat yang cukup membantu memperlambat penyerapan glukosa dan mendukung pengendalian berat badan.
2. Protein Berkualitas
Protein berperan penting dalam menjaga rasa kenya...

drg. Nissia Ananda, Sp.BM
2026-01-05
2172
Impaksi gigi bungsu adalah kondisi ketika gigi bungsu (geraham ketiga) gagal tumbuh secara normal di lengkung rahang. Hal ini dapat terjadi karena posisi gigi yang tidak tepat, kekurangan ruang, atau terhalang oleh gigi lain, tulang rahang, maupun jaringan gusi di sekitarnya.
Gigi bungsu umumnya mulai tumbuh pada usia 17–25 tahun. Namun, tidak semua orang memiliki ruang rahang yang cukup untuk pertumbuhan gigi ini, sehingga gigi bungsu menjadi terjebak dan tidak dapat erupsi dengan sempurna.
Diagnosis impaksi gigi bungsu tidak dapat ditegakkan hanya dari pemeriksaan visual, melainkan memerlukan pemeriksaan radiologi (foto rontgen gigi) untuk melihat posisi gigi secara menyeluruh.
Gigi bungsu (Geraham ketiga) mengalami impaksi karena tidak memiliki cukup ruang untuk masuk atau berkembang secara normal.
Gigi bungsu biasanya muncul antara usia 17 dan 25 tahun. Beberapa orang memiliki gigi bungsu yang muncul tanpa masalah dan sejajar dengan gigi lainnya di belakang gigi geraham kedua. Namun, dalam banyak kasus, mulut terlalu penuh (tidak ada ruang) untuk gigi bungsu berkembang secara normal sehingga menjadi terperangkap (terbentur).
Gigi bungsu yang mengalami impaksi dapat muncul sebagian sehingga sebagian mahkota terlihat (impaksi sebagian), atau mungkin tidak pernah menembus gusi (impaksi penuh). B...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved