
Promosi Kesehatan
2026-01-12
149
Masalah kesehatan gigi dan mulut masih sering ditemui di masyarakat, salah satunya adalah kondisi yang dikenal dengan istilah “saraf gigi mati”. Banyak orang baru menyadari adanya gangguan pada gigi ketika rasa nyeri sudah tidak tertahankan atau muncul pembengkakan. Padahal, kerusakan pada jaringan gigi dapat terjadi secara perlahan dan tanpa gejala yang jelas. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu saraf gigi mati, penyebabnya, serta cara mencegahnya agar kesehatan gigi tetap terjaga.
Istilah “saraf gigi mati” dalam dunia kedokteran gigi merujuk pada kondisi nekrosis pulpa, yaitu keadaan ketika jaringan pulpa gigi mengalami kematian atau kehilangan fungsi. Pulpa merupakan jaringan lunak yang berada di bagian tengah gigi, terdiri dari pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat, yang berperan penting dalam menjaga vitalitas gigi.
Dalam kondisi normal, pulpa berfungsi untuk mendukung pertumbuhan gigi (terutama pada gigi yang belum matang), memberikan sensasi terhadap rangsang panas, dingin, maupun tekanan, serta menjaga kesehatan jaringan gigi. Namun, ketika pulpa mengalami kerusakan atau infeksi, fungsi tersebut dapat hilang dan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih serius.
Beberapa tanda yang dapat mengindikasikan adanya gangguan pada pulpa gigi antara lain:
Pada beberapa kasus, saraf gigi mati dapat terjadi tanpa keluhan nyeri sama sekali, sehingga pemeriksaan rutin menjadi sangat penting.

Promosi Kesehatan
2026-01-12
221
Selama ini, penyakit jantung koroner kerap dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, saat ini penyakit jantung koroner semakin banyak ditemukan pada usia muda dan usia produktif. Kondisi ini terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner yang berfungsi memasok darah ke otot jantung.
Perubahan gaya hidup menjadi faktor penting yang berperan dalam meningkatnya kejadian penyakit jantung koroner di usia muda. Kurangnya aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak dan gula, kebiasaan merokok, serta stres berkepanjangan dapat mempercepat terjadinya gangguan pada pembuluh darah jantung.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, jumlah penderita penyakit jantung terbanyak justru ditemukan pada kelompok usia 25–34 tahun, yaitu sebanyak 140.206 orang, sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 15–24 tahun sebanyak 139.891 orang. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner bukan lagi masalah usia lanjut, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi generasi muda dan usia produktif.
Penyakit jantung koroner merupakan kondisi yang terjadi ketika pembuluh darah koroner mengalami penyempitan atau penyumbatan akibat penumpukan plak lemak. Akibatnya, aliran darah ke otot jantung menjadi terganggu.
Salah satu bentuk paling serius dari penyakit ini adalah serangan jantung (infark miokard), yaitu kondisi ketika aliran darah ke jantung terhenti secara tiba-tiba dan menyebabkan kerusakan pada jaringan otot jantung. Penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada usia muda apabila faktor risikonya tinggi.
Gejala penyakit jantung koroner dapat berbeda pada setiap individu dan sering kali muncul secara bertahap. Beberapa keluhan yang perlu diwaspada...

Promosi Kesehatan
2026-01-12
165
Diabetes melitus selama ini identik dengan penyakit pada orang dewasa dan lanjut usia. Namun, seiring perubahan gaya hidup, diabetes melitus tipe 2 (DM Tipe 2) kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia remaja. Pola makan tinggi gula dan lemak, kebiasaan mengonsumsi minuman manis, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang berperan dalam kondisi ini.
DM Tipe 2 pada remaja tidak dapat dianggap sepele. Penyakit yang muncul sejak usia muda berisiko menimbulkan komplikasi lebih dini dan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang, sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas di masa depan.
Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025, sekitar 11,3% penduduk dewasa Indonesia (usia 20–79 tahun) hidup dengan diabetes atau setara dengan 20,4 juta orang pada tahun 2024, dan diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada tahun 2050. Meskipun data tersebut berasal dari kelompok usia dewasa, tren ini menjadi peringatan penting bahwa risiko diabetes dapat muncul sejak usia yang lebih muda, termasuk pada remaja.
Diabetes melitus tipe 2 merupakan kondisi ketika kadar gula darah meningkat akibat tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara optimal atau jumlah insulin yang dihasilkan tidak mencukupi. Insulin berperan penting dalam membantu gula darah masuk ke sel tubuh untuk diolah menjadi energi.
Pada remaja, DM Tipe 2 sering berkaitan dengan kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik, yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Akibatnya, kadar gula darah dapat terus meningkat apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Gejala DM Tipe 2 pada remaja kerap berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari. Beberapa tanda yang perlu diwas...

Promosi Kesehatan
2026-01-12
149
Masalah kesehatan gigi dan mulut masih sering ditemui di masyarakat, salah satunya adalah kondisi yang dikenal dengan istilah “saraf gigi mati”. Banyak orang baru menyadari adanya gangguan pada gigi ketika rasa nyeri sudah tidak tertahankan atau muncul pembengkakan. Padahal, kerusakan pada jaringan gigi dapat terjadi secara perlahan dan tanpa gejala yang jelas. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu saraf gigi mati, penyebabnya, serta cara mencegahnya agar kesehatan gigi tetap terjaga.
Istilah “saraf gigi mati” dalam dunia kedokteran gigi merujuk pada kondisi nekrosis pulpa, yaitu keadaan ketika jaringan pulpa gigi mengalami kematian atau kehilangan fungsi. Pulpa merupakan jaringan lunak yang berada di bagian tengah gigi, terdiri dari pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat, yang berperan penting dalam menjaga vitalitas gigi.
Dalam kondisi normal, pulpa berfungsi untuk mendukung pertumbuhan gigi (terutama pada gigi yang belum matang), memberikan sensasi terhadap rangsang panas, dingin, maupun tekanan, serta menjaga kesehatan jaringan gigi. Namun, ketika pulpa mengalami kerusakan atau infeksi, fungsi tersebut dapat hilang dan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih serius.
Beberapa tanda yang dapat mengindikasikan adanya gangguan pada pulpa gigi antara lain:
Pada beberapa kasus, saraf gigi mati dapat terjadi tanpa keluhan nyeri sama sekali, sehingga pemeriksaan rutin menjadi sangat penting.

Promosi Kesehatan
2026-01-12
221
Selama ini, penyakit jantung koroner kerap dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, saat ini penyakit jantung koroner semakin banyak ditemukan pada usia muda dan usia produktif. Kondisi ini terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner yang berfungsi memasok darah ke otot jantung.
Perubahan gaya hidup menjadi faktor penting yang berperan dalam meningkatnya kejadian penyakit jantung koroner di usia muda. Kurangnya aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak dan gula, kebiasaan merokok, serta stres berkepanjangan dapat mempercepat terjadinya gangguan pada pembuluh darah jantung.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, jumlah penderita penyakit jantung terbanyak justru ditemukan pada kelompok usia 25–34 tahun, yaitu sebanyak 140.206 orang, sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 15–24 tahun sebanyak 139.891 orang. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner bukan lagi masalah usia lanjut, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi generasi muda dan usia produktif.
Penyakit jantung koroner merupakan kondisi yang terjadi ketika pembuluh darah koroner mengalami penyempitan atau penyumbatan akibat penumpukan plak lemak. Akibatnya, aliran darah ke otot jantung menjadi terganggu.
Salah satu bentuk paling serius dari penyakit ini adalah serangan jantung (infark miokard), yaitu kondisi ketika aliran darah ke jantung terhenti secara tiba-tiba dan menyebabkan kerusakan pada jaringan otot jantung. Penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada usia muda apabila faktor risikonya tinggi.
Gejala penyakit jantung koroner dapat berbeda pada setiap individu dan sering kali muncul secara bertahap. Beberapa keluhan yang perlu diwaspada...

Promosi Kesehatan
2026-01-12
165
Diabetes melitus selama ini identik dengan penyakit pada orang dewasa dan lanjut usia. Namun, seiring perubahan gaya hidup, diabetes melitus tipe 2 (DM Tipe 2) kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia remaja. Pola makan tinggi gula dan lemak, kebiasaan mengonsumsi minuman manis, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang berperan dalam kondisi ini.
DM Tipe 2 pada remaja tidak dapat dianggap sepele. Penyakit yang muncul sejak usia muda berisiko menimbulkan komplikasi lebih dini dan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang, sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas di masa depan.
Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025, sekitar 11,3% penduduk dewasa Indonesia (usia 20–79 tahun) hidup dengan diabetes atau setara dengan 20,4 juta orang pada tahun 2024, dan diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada tahun 2050. Meskipun data tersebut berasal dari kelompok usia dewasa, tren ini menjadi peringatan penting bahwa risiko diabetes dapat muncul sejak usia yang lebih muda, termasuk pada remaja.
Diabetes melitus tipe 2 merupakan kondisi ketika kadar gula darah meningkat akibat tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara optimal atau jumlah insulin yang dihasilkan tidak mencukupi. Insulin berperan penting dalam membantu gula darah masuk ke sel tubuh untuk diolah menjadi energi.
Pada remaja, DM Tipe 2 sering berkaitan dengan kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik, yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Akibatnya, kadar gula darah dapat terus meningkat apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Gejala DM Tipe 2 pada remaja kerap berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari. Beberapa tanda yang perlu diwas...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved