Artikel Kesehatan

GERD atau Masalah Jantung? Jangan Salah Tebak, Ini Pentingnya Deteksi Dini

Promosi Kesehatan (Anggi Septiana)

2026-01-29

5357

GERD atau Masalah Jantung? Jangan Salah Tebak, Ini Pentingnya Deteksi Dini

Rasa panas di dada, perih di ulu hati, atau sensasi terbakar sering dianggap sebagai keluhan asam lambung atau GERD. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa gejala tersebut juga bisa menyerupai tanda penyakit jantung. Jika tidak dikenali sejak awal, kondisi ini dapat menyebabkan keterlambatan penanganan yang berdampak serius. Oleh karena itu, memahami perbedaan gejala dan melakukan pemeriksaan risiko sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Nyeri dada adalah salah satu alasan tersering pasien datang ke IGD, dan penyebabnya bisa sangat beragam: mulai dari gangguan saluran cerna sampai penyakit jantung koroner. Jadi, tebak-tebakan jelas bukan strategi kesehatan.

GERD dan Nyeri Dada: Mirip Gejala, Beda Akar Masalah

GERD terjadi saat asam lambung naik ke kerongkongan akibat gangguan katup esofagus bawah. Gejalanya meliputi:

  • Sensasi panas di dada (heartburn)
  • Nyeri ulu hati
  • Mulut terasa asam atau pahit
  • Mual, begah, atau kembung

Sementara itu, nyeri dada akibat gangguan jantung biasanya terasa seperti:

  • Dada tertekan atau tertindih beban
  • Nyeri menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung
  • Disertai sesak napas, keringat dingin, atau lemas mendadak

Masalahnya? Presentasi klinis bisa tumpang tindih. Studi menunjukkan bahwa sebagian pasien penyakit jantung koroner datang dengan keluhan yang menyerupai gangguan lambung. Inilah kenapa “ngerasa cuma maag” bisa jadi jebakan.

Pre-Test Probability: Bukan Semua Nyeri Dada Risikonya Sama

Dalam dunia medis, dokter menilai risiko awal penyakit jantung menggunakan konsep pre-test probability, berdasarkan usia, jenis kelamin, dan karakter nyeri dada.

Secara umum:

  • Pria >40 tahun dengan nyeri dada khas saat aktivitas → risiko lebih tinggi
  • Wanita usia lanjut dengan faktor risiko metabolik → juga perlu waspada
  • Nyeri...

Pentingnya Gizi Seimbang untuk Cegah Stunting dan Penyakit Tidak Menular

Ayunthaya Wiharrani, S.Gz., Dietisien dan Alya Dwi Rahmadani

2026-01-26

3892

Pentingnya Gizi Seimbang untuk Cegah Stunting dan Penyakit Tidak Menular

Masalah gizi masih menjadi tantangan besar di Indonesia dan mencerminkan beban gizi ganda. Berdasarkan SKI 2023, 69,4% penduduk usia ≥10 tahun memiliki pengetahuan yang benar tentang stunting, namun pemahaman dampaknya masih terbatas, di mana hanya 21,8% mengetahui risiko stunting terhadap penyakit tidak menular (PTM)di usia dewasa.

Pada penduduk dewasa, 7,8% masih mengalami gizi kurang, sementara 14,4% tergolong overweight dan 23,4% mengalami obesitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan dan kelebihan gizi secara bersamaan yang berkontribusi pada meningkatnya risiko PTM dan berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Pola makan tidak seimbang, konsumsi makanan cepat saji, serta kurangnya pemahaman tentang gizi membuat risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung semakin tinggi. Dalam memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) di Indonesia yang diperingati setiap 25 Januari, masyarakat diajak untuk kembali menyadari pentingnya gizi seimbang sebagai dasar terciptanya kualitas hidup yang lebih baik.

Mengapa Gizi Seimbang Penting bagi Kesehatan Tubuh?

Gizi bukan sekadar tentang makanan cukup, melainkan berkaitan dengan kualitas makanan yang dikonsumsi dan dampaknya bagi tubuh, sementara itu  Nutrisi adalah proses ketika tubuh menerima dan memanfaatkan zat gizi dari makanan untuk pertumbuhan, fungsi organ, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan menjaga kesehatan secara keseluruhan. Zat gizi yang dibutuhkan tubuh dibagi menjadi dua kelompok utama:

  1. Makronutrien seperti protein sebagai zat pembangun serta karbohidrat dan lemak sebagai zat tenaga. Makronutrien memiliki fungsi dalam menyediakan energi untuk tubuh.
  2. Mikronutrien seperti vitamin dan mineral yang berfungsi sebagai zat pengatur. Zat ini diperlukan dalam jumlah kecil namun sangat penting untuk tubuh. Fungsi dari mikronutrien adalah melindungi dan meningkatkan berbagai fungsi tubuh termasu...

Kusta Bisa Disembuhkan: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

dr. Mufqi Handaru Priyanto, Sp.DV dan Alya Dwi Rahmadani

2026-01-26

358

Kusta Bisa Disembuhkan: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

Hari Kusta Sedunia diperingati setiap minggu terakhir bulan Januari sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kusta. Peringatan ini menekankan bahwa kusta bukan hanya persoalan medis, tetapi juga masalah sosial yang erat kaitannya dengan stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya. Meskipun kusta merupakan penyakit yang dapat disembuhkan melalui pengobatan yang teratur, hingga saat ini kusta masih ditemukan di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data tahun 2023, Indonesia menduduki peringkat ke-3 negara dengan beban kusta terbesar di dunia setelah India dan Brazil. Kondisi ini menunjukkan bahwa kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia.

Apa Itu Penyakit Kusta ?

Kusta atau penyakit Hansen adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang kulit dan saraf tepi, serta dapat mengenai mukosa saluran pernapasan atas dan mata. Kusta bukan penyakit keturunan dan tidak mudah menular melalui kontak biasa. Dengan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, kusta dapat disembuhkan dan kecacatan dapat dicegah.

Gejala Kusta yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda dan gejala kusta yang perlu dikenali sejak dini antara lain:

  • Bercak pada kulit berwarna lebih pucat atau kemerahan yang disertai mati rasa.
  • Penebalan atau pembesaran saraf tepi yang dapat disertai kesemutan, baal, atau kelemahan otot.
  • Luka yang tidak terasa nyeri atau sulit sembuh.

Pengenalan gejala kusta sejak awal sangat penting agar pengobatan dapat segera dimulai dan komplikasi dapat dicegah.

Penyebab Kusta dan Cara Penularannya

Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penularan terjadi melalui percikan droplet dari hidung atau mulut penderita kusta yang belum mendapatkan pengobatan, setelah kontak erat dan berlangsung dalam waktu lama. Pend...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved