Artikel Kesehatan

The Burnout Generation: Mengapa Gen Z Lebih Cepat Burnout Dibanding Generasi Sebelumnya?

Promosi Kesehatan (Nasira Aaliya Noreen)

2026-02-09

1596

The Burnout Generation: Mengapa Gen Z Lebih Cepat Burnout Dibanding Generasi Sebelumnya?

Generasi Z (Gen Z) sering disebut sebagai generasi yang paling sadar akan kesehatan mental. Mereka lebih terbuka membicarakan stres, kelelahan emosional, hingga burnout sejak usia muda.

Namun, di balik keterbukaan ini, data menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: Gen Z dilaporkan memiliki tingkat stres, depresi, dan kelelahan mental yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Tumbuh di era internet, media sosial, serta krisis global yang terus terjadi, Gen Z menghadapi tekanan yang kompleks sejak dini. Lalu, mengapa generasi ini tampak lebih cepat burnout? Dan apa dampaknya jika kondisi ini tidak ditangani? 

Apa Itu Burnout?

Menurut International Classification of Diseases (ICD-11), burnout adalah sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Burnout ditandai oleh tiga hal utama:

  1. Kelelahan energi yang menetap
  2. Jarak mental atau sikap sinis terhadap pekerjaan
  3. Penurunan efektivitas profesional

Sementara itu, American Psychological Association (APA) mendefinisikan burnout sebagai kelelahan fisik, emosional, atau mental yang disertai penurunan motivasi, performa, serta munculnya sikap negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Dengan kata lain, burnout bukan sekadar rasa capek biasa, tetapi kondisi serius yang dapat memengaruhi cara seseorang bekerja, berpikir, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Gejala Burnout yang Perlu Diwaspadai

Burnout sering berkembang secara perlahan sehingga tidak selalu disadari sejak awal. Beberapa gejala umum meliputi:

  • Rasa lelah yang menetap meski sudah cukup istirahat
  • Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan
  • Merasa hampa, tidak termotivasi, atau mati rasa secara emosional
  • Sulit fokus dan lebih sering melakukan kesalahan
  • Mudah marah, cemas, atau merasa kewalahan
  • Keluhan fisik seperti sakit kepala, gangguan pe...

Efek Gas Rumah Kaca (GRK)

Novi Febriyani, S.Tr.Kes

2026-02-06

2663

Efek Gas Rumah Kaca (GRK)

Pengertian Gas Rumah Kaca

Gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas yang terdapat di atmosfer dan memiliki kemampuan menyerap serta memantulkan kembali panas matahari (radiasi inframerah) yang dipancarkan oleh permukaan bumi. Proses ini dikenal sebagai efek rumah kaca.

Secara alami, efek rumah kaca sangat penting karena menjaga suhu bumi tetap hangat dan layak dihuni. Namun, ketika jumlah gas rumah kaca meningkat secara berlebihan akibat aktivitas manusia, panas yang terperangkap menjadi terlalu banyak. Kondisi inilah yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Jenis-Jenis Gas Rumah Kaca

Beberapa gas utama yang berperan dalam efek rumah kaca antara lain:

  1. Karbon Dioksida (CO₂)
    Karbon dioksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, solar, dan batu bara. Aktivitas kendaraan bermotor, industri, pembangkit listrik, serta kebakaran hutan merupakan sumber utama emisi CO₂. Gas ini menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.
  2. Metana (CH₄)
    Metana banyak dihasilkan dari kegiatan peternakan, persawahan, serta proses pembusukan limbah organik. Meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan CO₂, metana memiliki kemampuan memerangkap panas yang jauh lebih kuat.
  3. Dinitrogen Oksida (N₂O)
    Gas ini dilepaskan dari penggunaan pupuk di sektor pertanian, pembakaran bahan bakar fosil, kegiatan industri, serta proses biologis alami di dalam tanah. Dinitrogen oksida juga berkontribusi terhadap peningkatan efek rumah kaca.
    Gas-gas tersebut meningkatkan jumlah panas yang terperangkap di atmosfer, sehingga suhu permukaan bumi terus meningkat dan memicu perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Penyebab Peningkatan Gas Rumah Kaca

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terutama disebabkan oleh aktivitas manusia, di antaranya:

  • Penggunaan bahan bakar fosil untuk energi, transportasi, dan i...

Peran Akupunktur dalam Program Kehamilan pada Pasangan dengan Infertilitas

dr. Riri Kumala Sari dan Dr. dr. Wahyuningsih Djaali, M. Biomed, Sp.Ak

2026-02-06

2697

Peran Akupunktur dalam Program Kehamilan pada Pasangan dengan Infertilitas

Sulit hamil atau infertilitas adalah kondisi ketika pasangan suami istri belum berhasil mendapatkan kehamilan meskipun sudah rutin berhubungan seksual tanpa alat kontrasepsi selama minimal 12 bulan. Menurut Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), infertilitas dibagi menjadi dua jenis, yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder.

Infertilitas primer adalah kondisi ketika seorang wanita belum pernah hamil sama sekali. Sementara itu, infertilitas sekunder terjadi pada pasangan yang sebelumnya pernah hamil atau memiliki anak, tetapi mengalami kesulitan untuk hamil kembali. Pada wanita berusia di atas 35 tahun, evaluasi infertilitas disarankan dilakukan lebih awal, yaitu setelah enam bulan mencoba tanpa hasil.

Selain itu, terdapat istilah infertilitas idiopatik, yaitu kondisi ketika semua hasil pemeriksaan medis tampak normal, namun kehamilan tetap belum terjadi. Kondisi ini cukup sering ditemukan dan dapat menimbulkan stres emosional bagi pasangan.

Seberapa Sering Infertilitas Terjadi?

Di Indonesia, sekitar 10–15% pasangan usia subur mengalami infertilitas. Artinya, dari setiap 10 hingga 15 pasangan, terdapat satu pasangan yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. Pada kelompok wanita usia 15–49 tahun, infertilitas primer diperkirakan terjadi pada 2,5–15%, tergantung kelompok usia.

Data ini menunjukkan bahwa infertilitas merupakan masalah kesehatan yang cukup umum dan membutuhkan penanganan yang tepat, aman, dan berbasis bukti ilmiah.

Akupunktur sebagai Terapi Pendukung Program Kehamilan

Akupunktur merupakan salah satu terapi komplementer yang semakin banyak diteliti dan digunakan sebagai pendukung program kehamilan, baik pada kehamilan alami maupun sebagai pendamping teknologi reproduksi berbantu seperti bayi tabung (IVF).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa akupunktur aman dan dapat memberikan manfaat tambahan dalam meningkatkan peluang kehamilan bila dilakukan oleh tenaga medis ya...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved