
Promosi Kesehatan (Muthiah Salsabilah)
2026-02-23
3493
Kehamilan sering digambarkan sebagai masa penuh kebahagiaan. Namun pada kenyataannya, banyak ibu hamil menghadapi tantangan emosional yang tidak ringan. Perubahan hormon, kekhawatiran menghadapi persalinan, hingga tekanan psikososial dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental.
Sayangnya, stigma bahwa ibu hamil “harus selalu bahagia” membuat sebagian perempuan merasa bersalah untuk mengungkapkan kecemasan yang dialami.
Data dari World Health Organization menunjukkan sekitar 10–20% ibu hamil di dunia mengalami kecemasan atau depresi. Di Indonesia, angka ini diperkirakan mencapai 15–25%. Rendahnya kesadaran skrining dini menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi, padahal kondisi psikologis ibu berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang janin.
Karena itu, mengenali tanda sejak dini sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi sejak masa kehamilan hingga pascapersalinan.
Gangguan kesehatan mental pada kehamilan (antenatal mental health disorders) adalah kondisi psikologis seperti kecemasan berlebihan dan depresi yang muncul selama masa kehamilan.
Kondisi ini berbeda dari perubahan suasana hati biasa akibat hormon. Pada gangguan mental, gejala; berlangsung minimal dua minggu, lebih intens, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Depresi prenatal dapat membuat ibu merasa putus asa dan kehilangan minat terhadap aktivitas harian. Sementara gangguan kecemasan menyebabkan kekhawatiran ekstrem terhadap kondisi janin atau kemampuan mengasuh anak, meskipun secara medis dinyatakan sehat.
Gejala sering berkembang perlahan dan kerap dianggap sebagai kelelahan biasa. Padahal, deteksi dini sangat penting agar ibu segera mendapatkan bantuan.
Tanda yang perlu diperhatikan:

Jihan Shabila Ramadhan
2026-02-23
3867
Ketika mendengar “gigi berlubang”, banyak orang membayangkan lubang yang tampak jelas di permukaan gigi. Namun, ada kondisi yang lebih tersembunyi tetapi serius, yaitu karies dentin.
Karies dentin adalah kerusakan gigi yang telah mencapai lapisan dentin di bawah enamel, meskipun permukaan gigi masih tampak utuh atau hanya menunjukkan perubahan minimal. Kondisi ini sering disebut sebagai karies tersembunyi (hidden caries) karena sulit dideteksi secara langsung dan dapat berkembang lebih cepat akibat sifat dentin yang lebih lunak.
Pada tahap awal, karies dentin umumnya tidak menimbulkan nyeri sehingga sering tidak disadari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan radiografi.
Kerusakan terjadi ketika asam dari bakteri karies menembus enamel dan memasuki dentin. Karena dentin lebih rentan, proses kerusakan dapat menyebar dengan cepat. Lesi yang telah mencapai dentin memerlukan pendekatan perawatan khusus untuk menjaga vitalitas pulpa.
Ada beberapa alasan mengapa kerusakan gigi tidak langsung terlihat meskipun sudah cukup dalam.
Dokter gigi biasanya memerlukan pemeriksaan radiografi atau metode tambahan untuk menemukan kerusakan yang tidak tampak. Bahkan, sisa karies pada dentin setelah pembersihan juga dapat sulit dideteksi secara akurat, sehingga pemeriksaan menyeluruh sangat penting.
Meskipun sering tidak bergejala, beberapa tanda berikut dapat menjadi sinyal peringatan:

Promosi Kesehatan (Nasira Aaliya Noreen)
2026-02-23
2679
Setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh dan berkembang optimal, termasuk dalam kemampuan berbicara. Kekhawatiran sering muncul saat anak belum mampu mengucapkan kata seperti teman seusianya. Pertanyaannya: apakah kondisi ini masih dalam batas normal atau perlu evaluasi?
Perkembangan bicara dan bahasa anak dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik hingga stimulasi lingkungan. Interaksi sehari-hari seperti mengajak anak berbicara, membacakan cerita, dan merespons ocehannya memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan komunikasi sejak dini.
Perkembangan bahasa tidak terjadi secara instan, melainkan bertahap sejak bayi.
Pada tahun pertama kehidupan, bayi mulai dengan suara kecil (cooing), lalu berkembang menjadi ocehan (babbling) seperti “ba-ba” atau “ma-ma”. Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengucapkan kata pertama dan kemudian menggabungkan dua kata atau lebih menjadi kalimat sederhana.
Dalam tiga tahun pertama kehidupan, anak umumnya memahami jauh lebih banyak daripada yang dapat diungkapkan. Artinya, anak yang belum lancar berbicara belum tentu tidak memahami komunikasi di sekitarnya.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Namun, beberapa tanda berikut perlu mendapat perhatian lebih lanjut:
Jika anak menunjukkan bebera...

Promosi Kesehatan (Muthiah Salsabilah)
2026-02-23
3493
Kehamilan sering digambarkan sebagai masa penuh kebahagiaan. Namun pada kenyataannya, banyak ibu hamil menghadapi tantangan emosional yang tidak ringan. Perubahan hormon, kekhawatiran menghadapi persalinan, hingga tekanan psikososial dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental.
Sayangnya, stigma bahwa ibu hamil “harus selalu bahagia” membuat sebagian perempuan merasa bersalah untuk mengungkapkan kecemasan yang dialami.
Data dari World Health Organization menunjukkan sekitar 10–20% ibu hamil di dunia mengalami kecemasan atau depresi. Di Indonesia, angka ini diperkirakan mencapai 15–25%. Rendahnya kesadaran skrining dini menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi, padahal kondisi psikologis ibu berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang janin.
Karena itu, mengenali tanda sejak dini sangat penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi sejak masa kehamilan hingga pascapersalinan.
Gangguan kesehatan mental pada kehamilan (antenatal mental health disorders) adalah kondisi psikologis seperti kecemasan berlebihan dan depresi yang muncul selama masa kehamilan.
Kondisi ini berbeda dari perubahan suasana hati biasa akibat hormon. Pada gangguan mental, gejala; berlangsung minimal dua minggu, lebih intens, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Depresi prenatal dapat membuat ibu merasa putus asa dan kehilangan minat terhadap aktivitas harian. Sementara gangguan kecemasan menyebabkan kekhawatiran ekstrem terhadap kondisi janin atau kemampuan mengasuh anak, meskipun secara medis dinyatakan sehat.
Gejala sering berkembang perlahan dan kerap dianggap sebagai kelelahan biasa. Padahal, deteksi dini sangat penting agar ibu segera mendapatkan bantuan.
Tanda yang perlu diperhatikan:

Jihan Shabila Ramadhan
2026-02-23
3867
Ketika mendengar “gigi berlubang”, banyak orang membayangkan lubang yang tampak jelas di permukaan gigi. Namun, ada kondisi yang lebih tersembunyi tetapi serius, yaitu karies dentin.
Karies dentin adalah kerusakan gigi yang telah mencapai lapisan dentin di bawah enamel, meskipun permukaan gigi masih tampak utuh atau hanya menunjukkan perubahan minimal. Kondisi ini sering disebut sebagai karies tersembunyi (hidden caries) karena sulit dideteksi secara langsung dan dapat berkembang lebih cepat akibat sifat dentin yang lebih lunak.
Pada tahap awal, karies dentin umumnya tidak menimbulkan nyeri sehingga sering tidak disadari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan radiografi.
Kerusakan terjadi ketika asam dari bakteri karies menembus enamel dan memasuki dentin. Karena dentin lebih rentan, proses kerusakan dapat menyebar dengan cepat. Lesi yang telah mencapai dentin memerlukan pendekatan perawatan khusus untuk menjaga vitalitas pulpa.
Ada beberapa alasan mengapa kerusakan gigi tidak langsung terlihat meskipun sudah cukup dalam.
Dokter gigi biasanya memerlukan pemeriksaan radiografi atau metode tambahan untuk menemukan kerusakan yang tidak tampak. Bahkan, sisa karies pada dentin setelah pembersihan juga dapat sulit dideteksi secara akurat, sehingga pemeriksaan menyeluruh sangat penting.
Meskipun sering tidak bergejala, beberapa tanda berikut dapat menjadi sinyal peringatan:

Promosi Kesehatan (Nasira Aaliya Noreen)
2026-02-23
2679
Setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh dan berkembang optimal, termasuk dalam kemampuan berbicara. Kekhawatiran sering muncul saat anak belum mampu mengucapkan kata seperti teman seusianya. Pertanyaannya: apakah kondisi ini masih dalam batas normal atau perlu evaluasi?
Perkembangan bicara dan bahasa anak dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetik hingga stimulasi lingkungan. Interaksi sehari-hari seperti mengajak anak berbicara, membacakan cerita, dan merespons ocehannya memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan komunikasi sejak dini.
Perkembangan bahasa tidak terjadi secara instan, melainkan bertahap sejak bayi.
Pada tahun pertama kehidupan, bayi mulai dengan suara kecil (cooing), lalu berkembang menjadi ocehan (babbling) seperti “ba-ba” atau “ma-ma”. Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengucapkan kata pertama dan kemudian menggabungkan dua kata atau lebih menjadi kalimat sederhana.
Dalam tiga tahun pertama kehidupan, anak umumnya memahami jauh lebih banyak daripada yang dapat diungkapkan. Artinya, anak yang belum lancar berbicara belum tentu tidak memahami komunikasi di sekitarnya.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Namun, beberapa tanda berikut perlu mendapat perhatian lebih lanjut:
Jika anak menunjukkan bebera...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved