Artikel Kesehatan

Krisis Kesehatan Mental Remaja dan Pelajar: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Promosi Kesehatan (Nasira Aaliya Noreen)

2026-03-05

19742

Krisis Kesehatan Mental Remaja dan Pelajar: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Masa remaja adalah fase transisi yang penuh perubahan fisik, emosional, dan sosial. Di periode ini, remaja mulai menghadapi tekanan akademik, dinamika pertemanan, hingga tuntutan untuk menemukan jati diri. Tidak sedikit yang terlihat “baik-baik saja”, tetapi sebenarnya sedang berjuang dengan kondisi mentalnya.

Data global menunjukkan sekitar 1 dari 7 remaja mengalami masalah kesehatan mental. Sayangnya, kondisi ini sering dianggap sekadar “fase remaja” atau perubahan emosi biasa. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, gangguan kesehatan mental pada remaja dapat berdampak serius terhadap tumbuh kembang, prestasi belajar, hingga kualitas hidup di masa depan.

Apa Itu Krisis Kesehatan Mental Remaja?

Krisis kesehatan mental remaja dan pelajar adalah kondisi ketika tekanan psikologis sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti belajar, bersosialisasi, dan mengelola emosi.

Beberapa bentuk masalah kesehatan mental yang sering dialami remaja antara lain:

  • Stres berat pada pelajar
  • Kecemasan berlebihan (anxiety)
  • Depresi pada remaja
  • Perubahan perilaku yang signifikan

Berbeda dengan naik-turun emosi yang wajar terjadi saat pubertas, krisis kesehatan mental biasanya berlangsung lebih lama, intensitasnya meningkat, dan tidak membaik tanpa bantuan profesional.

Gejala Gangguan Kesehatan Mental pada Remaja yang Perlu Diwaspadai

Orang tua dan guru perlu mengenali tanda-tanda awal berikut:

  • Perubahan suasana hati drastis (mudah marah, sedih berkepanjangan, cemas berlebihan)
  • Penurunan konsentrasi dan prestasi belajar
  • Sulit fokus atau kehilangan motivasi sekolah
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Perubahan pola tidur dan pola makan secara signifikan

Jika gejala berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas harian, kondisi ini sebaiknya segera dikonsultasikan.

Penyebab Krisis Kesehatan Mental pada Pelajar

Masalah kes...

Dampak Konsumsi Ultra Processed Food (UPF): Bahaya Nyata di Balik Makanan Instan

Khazim Firmansyah Paripurno, S.Gz. dan Ayunthaya Wiharrani S.Gz., Dietisien

2026-03-05

19906

Dampak Konsumsi Ultra Processed Food (UPF): Bahaya Nyata di Balik Makanan Instan

Apa Itu Ultra Processed Food (UPF)?

Ultra Processed Food (UPF) adalah makanan atau minuman yang melalui proses industri panjang serta mengandung banyak bahan tambahan pangan (BTP).

Menurut definisi yang dirujuk oleh World Health Organization (2009), UPF merupakan produk yang diproses secara intensif dan umumnya mengandung:

  • Pewarna buatan
  • Pemanis buatan
  • Pengawet
  • Penyedap rasa
  • Emulsifier
  • Maltodekstrin
  • High-fructose corn syrup

Proses ini membuat makanan menjadi lebih awet, praktis, dan terasa sangat lezat. Namun, di balik kemudahan tersebut, sering kali terjadi penurunan bahkan hilangnya kandungan gizi alami.

Ciri-Ciri Makanan Ultra Processed Food

Beberapa contoh UPF yang sering dikonsumsi sehari-hari:

  • Roti kemasan
  • Mi instan
  • Minuman kemasan manis
  • Kopi sachet 3-in-1
  • Es krim pabrikan
  • Saus instan

Karakteristik utamanya:

  • Tinggi gula, garam, dan lemak
  • Rendah serat dan mikronutrien
  • Mengandung ≥5 bahan tambahan pangan

Dampak Konsumsi UPF terhadap Kesehatan

  1. Konsumsi Kalori Berlebihan & Risiko Obesitas
    Penelitian oleh Hall, K. D., et al. (2019) menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi diet UPF secara otomatis makan sekitar 500 kalori lebih banyak per hari, meskipun kandungan lemak, gula, dan serat dibuat setara secara laboratorium.
    UPF bersifat hyper-palatable (sangat menggugah selera), sehingga mudah memicu makan berlebihan dan berisiko menyebabkan kenaikan berat badan.
  2. Lonjakan Gula Darah
    UPF dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih tajam. Kondisi ini dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik.
  3. Risiko Kebocoran Usus (Leaky Gut)
    Penelitian Chassaing et al. (2022) menemukan bahwa emulsifier dalam UPF dap...

GERD, Maag, dan Gastritis: Apa Bedanya dan Kapan Perlu Endoskopi?

dr. Muhammad Hafiz Aini, Sp.PD dan Nida Nafilah

2026-03-03

19729

GERD, Maag, dan Gastritis: Apa Bedanya dan Kapan Perlu Endoskopi?

Nyeri ulu hati, dada terasa panas, mual, atau mulut pahit sering langsung dilabeli sebagai “maag biasa”. Padahal, keluhan tersebut bisa mengarah ke kondisi yang berbeda, mulai dari dispepsia (maag), gastritis (radang lambung), hingga GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Sekilas gejalanya mirip, tapi mekanismenya beda. Penanganannya pun tidak sama. Memahami perbedaannya penting agar tidak salah kaprah dan terlambat mendapatkan terapi yang tepat.

Apa Itu Maag (Dispepsia)?

Secara medis, maag dikenal sebagai dispepsia. Ini bukan satu penyakit spesifik, melainkan kumpulan gejala di perut bagian atas, seperti:

  • Nyeri atau perih di ulu hati
  • Perut terasa penuh atau kembung
  • Cepat kenyang saat makan
  • Mual

Menurut edukasi yang disampaikan oleh dr. Muhammad Hafiz Aini, Sp.PD, dispepsia sering berkaitan dengan asam lambung, tetapi belum tentu disertai kerusakan pada dinding lambung.

Artinya, keluhan bisa terasa mengganggu, namun belum tentu ada peradangan atau luka yang terlihat pada lambung.

Gastritis: Saat Lambung Mengalami Peradangan

Berbeda dari maag, gastritis adalah peradangan pada dinding lambung. Pada kondisi yang lebih berat, peradangan dapat menyebabkan luka hingga perdarahan lambung.

Tanda bahaya gastritis yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Muntah darah
  • Tinja berwarna hitam pekat
  • Nyeri hebat di ulu hati

Jika gejala ini muncul, pemeriksaan medis tidak boleh ditunda.

Maag yang berlangsung lama dan tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi gastritis. Karena itu, keluhan yang berulang atau memburuk perlu dievaluasi lebih lanjut oleh dokter.

Kapan Perlu Endoskopi Lambung?

Untuk memastikan adanya peradangan atau luka pada lambung, dokter dapat merekomendasikan endoskopi saluran cerna atas atau esofagogastroduodenoskopi (EGD).

Melalui prosedur ini, dokter dapat melihat langsung kondisi...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved