
Indah Sukmawati (Juara 2 Article Contest HUT Ke-1 RSUI)
2020-04-24
18522
Setiap manusia pasti memiliki keluhan dalam hidupnya. Tidak terkecuali pada kelompok mahasiswa. Terkadang, mahasiswa mengaku bahwa mereka pernah atau bahkan sering mengalami stres. Tidak jarang mahasiswa melontarkan kalimat “stres kuliah, lebih baik saya menikah saja”. Guyonan ini cenderung mendefinisikan bahwa mahasiswa sudah dalam kondisi menyerah karena beban kuliah. Kira - kira apa yang membuat mereka stres dan bagaimana cara mengatasinya?
Menurut Siswoyo (2007) mahasiswa dapat didefinisikan sebagai seseorang yang sedang dalam keadaan menuntut ilmu pada tingkat perguruan tinggi. Sedangkan menurut Budiman (2006), mahasiswa merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi demi mempersiapkan diri untuk suatu keahlian pada tingkat sarjana. Perguruan tinggi tersebut dapat berupa perguruan tinggi negeri maupun swasta atau dari lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi. Maka berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang menimba ilmu di perguruan tinggi negeri maupun swasta dan lembaga lain yang setingkat.
Menurut Abdullah (2007) stres merupakan kondisi jiwa raga, fisik dan psikis seseorang yang fungsinya tidak berjalan dengan semestinya atau tidak normal. Stres juga dapat terjadi pada setiap orang. Sedangkan menurut Febriana & Wahyuningsih (2011) stres merupakan istilah yang awalnya berasal dari bahasa latin stingere, yang memiliki makna keras. Maksudnya adalah stres dianggap sebagai keadaan tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, dan menimbulkan kecemasan. Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa stres adalah kondisi jiwa raga, fisik dan psikis yang dapat terjadi pada setiap orang karena berbagai macam sebab dan bersifat menimbulkan kecemasan.
Menurut Gunarya (2011), secara fisiologi, yang terjadi di dalam tubuh kita saat mengalami stres. Perubahan tersebut dimulai dengan munculnya permasalahan yang membuat cerebral cortex mengirimka...

Ainur Pinandita (Juara 3 Article Contest HUT Ke-1 RSUI)
2020-04-24
12509
Latar Belakang
Era penggunaan tisu toilet sudah membudaya di Indonesia. Di setiap interior toilet di hotel-hotel, mall, warung siap saji, perkantoran, ruang publik bahkan di rumah sakit pasti tersedia tisu toilet di dalamnya. Ini akibat dari efek arus modernisasi interior toilet. Sehingga mau tidak mau masyarakat disuguhi dengan budaya “aneh”cara cebok baru yaitu dengan menggunakan tisu. Karena pada toiletnya sengaja tidak disediakan bak atau ember air. Tapi dibalik kepraktisan tisu toilet tersebut ada resiko-resiko yang mengkhawatirkan dalam penggu -naannya. Karena kita tidak tau apa yang dilakukan orang dengan tisu toilet ketika berada di kamar kecil tersebut. Kecerobohan pengguna tisu toilet yang dengan sengaja atau tidak telah melakukan droplet yang tentu bisa menyebar kamanapun di sekitar tolet termasuk di tisu toilet itu sendiri, sehingga rawan penularan. Jika hal itu terjadi di toilet rumah sakit tentu akan sangat beresiko sekali.karena banyak pasien penyakit menular dirawat disana.
Tisu Toilet
Tisu toilet atau kertas toilet adalah tisu/kertas yang digunakan untuk membersihkan anus dan alat kelamin setelah buang air besar dan kecil. Kertas tisu dirancang untuk terurai dalam air sehingga tidak menyumbat saluran limbah. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tisu_toilet) Tisu toilet umumnya berbentuk gulungan berwarna putih, sering digunakan tidak hanya di toilet tapi juga untuk berbagai keperluan pengganti lap . Bahkan banyak dijumpai di warung makan di pinggir jalan seperti warung bakso, mie ayam, warung nasi goreng dan lainnya yang menggunakan tisu toilet untuk lap tangan dan mulut setelah makan atau minum,
Tisu toilet merupakan satu-satunya produk yang sebagian besar digunakan manusia sekali saja kemudian dibuang. Produk tersebut kurang berkelanjutan dan tidak ramah lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh WWF (World Wildlife Fund), untuk memb...

Muhammad Ivan (Juara 1 Article Contest HUT ke-1 RSUI)
2020-04-24
11246
Pembangunan manusia menjadi fokus pemerintah dalam RPJMN 2020-2024. Diharapkan segala program pemerintah baik pusat maupun daerah mampu menggenjot potensi modal manusia (human capital) hingga berkah bonus demografi termanisfestasi. Namun berkah tersebut terasa absurd, apabila kondisi kesehatan penduduk Indonesia justru kontras dengan prestasi yang dihasilkan pemerintah. Padahal secara ekonomi, kesehatan manusia baik sebagai warga negara maupun pekerja adalah hal penting untuk persaingan di tingkat global.
Fakta menunjukkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami double burden diseases, yaitu beban Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Penyakit Menular sekaligus. Dalam dua dekade terakhir telah terjadi transisi epidemiologis yang signifikan, yakni penyakit tidak menular telah menjadi beban utama, sementara beban penyakit menular masih berat juga. Inilah yang menjadi temuan background study RPJMN 2020-2024 di lingkungan strategis bidang kesehatan.
Ada diktum menarik yang disampaikan Prof. Arif Rahman, dosen UNJ beberapa belas tahun silam. Beliau pernah menunturkan dalam sebuah seminar pendidikan yang saya ikuti, bahwa menurutnya guru yang sehat lebih baik daripada guru yang pintar. Terkesan sederhana, namun benar. Guru sehat akan mengajar lebih optimal dan berenergi serta semangat menjalankan tugas mulia. Bagaimana mungkin membangun manusia, namun yang membangun maupun yang akan dibangun, lesu dan tak bersemangat.
Dalam penelitian Dyah Purnamasari yang dikutip dari Jurnal Acta Medica Indonesiana Volume 50 Nomor 4 (2018) dikemukakan bahwa angka kematian di Indonesia didominasi oleh PTM. Perubahan lingkungan, teknologi dan gaya hidup telah mengubah pola penyakit di Indonesia menjadi didominasi oleh PTM seperti diabetes melitus, penyakit jantung, dislipidemia, obesitas, penyakit ginjal, penyakit paru-paru, dan tumor.
Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 dike...

Indah Sukmawati (Juara 2 Article Contest HUT Ke-1 RSUI)
2020-04-24
18522
Setiap manusia pasti memiliki keluhan dalam hidupnya. Tidak terkecuali pada kelompok mahasiswa. Terkadang, mahasiswa mengaku bahwa mereka pernah atau bahkan sering mengalami stres. Tidak jarang mahasiswa melontarkan kalimat “stres kuliah, lebih baik saya menikah saja”. Guyonan ini cenderung mendefinisikan bahwa mahasiswa sudah dalam kondisi menyerah karena beban kuliah. Kira - kira apa yang membuat mereka stres dan bagaimana cara mengatasinya?
Menurut Siswoyo (2007) mahasiswa dapat didefinisikan sebagai seseorang yang sedang dalam keadaan menuntut ilmu pada tingkat perguruan tinggi. Sedangkan menurut Budiman (2006), mahasiswa merupakan orang yang belajar di perguruan tinggi demi mempersiapkan diri untuk suatu keahlian pada tingkat sarjana. Perguruan tinggi tersebut dapat berupa perguruan tinggi negeri maupun swasta atau dari lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi. Maka berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang menimba ilmu di perguruan tinggi negeri maupun swasta dan lembaga lain yang setingkat.
Menurut Abdullah (2007) stres merupakan kondisi jiwa raga, fisik dan psikis seseorang yang fungsinya tidak berjalan dengan semestinya atau tidak normal. Stres juga dapat terjadi pada setiap orang. Sedangkan menurut Febriana & Wahyuningsih (2011) stres merupakan istilah yang awalnya berasal dari bahasa latin stingere, yang memiliki makna keras. Maksudnya adalah stres dianggap sebagai keadaan tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, dan menimbulkan kecemasan. Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa stres adalah kondisi jiwa raga, fisik dan psikis yang dapat terjadi pada setiap orang karena berbagai macam sebab dan bersifat menimbulkan kecemasan.
Menurut Gunarya (2011), secara fisiologi, yang terjadi di dalam tubuh kita saat mengalami stres. Perubahan tersebut dimulai dengan munculnya permasalahan yang membuat cerebral cortex mengirimka...

Ainur Pinandita (Juara 3 Article Contest HUT Ke-1 RSUI)
2020-04-24
12509
Latar Belakang
Era penggunaan tisu toilet sudah membudaya di Indonesia. Di setiap interior toilet di hotel-hotel, mall, warung siap saji, perkantoran, ruang publik bahkan di rumah sakit pasti tersedia tisu toilet di dalamnya. Ini akibat dari efek arus modernisasi interior toilet. Sehingga mau tidak mau masyarakat disuguhi dengan budaya “aneh”cara cebok baru yaitu dengan menggunakan tisu. Karena pada toiletnya sengaja tidak disediakan bak atau ember air. Tapi dibalik kepraktisan tisu toilet tersebut ada resiko-resiko yang mengkhawatirkan dalam penggu -naannya. Karena kita tidak tau apa yang dilakukan orang dengan tisu toilet ketika berada di kamar kecil tersebut. Kecerobohan pengguna tisu toilet yang dengan sengaja atau tidak telah melakukan droplet yang tentu bisa menyebar kamanapun di sekitar tolet termasuk di tisu toilet itu sendiri, sehingga rawan penularan. Jika hal itu terjadi di toilet rumah sakit tentu akan sangat beresiko sekali.karena banyak pasien penyakit menular dirawat disana.
Tisu Toilet
Tisu toilet atau kertas toilet adalah tisu/kertas yang digunakan untuk membersihkan anus dan alat kelamin setelah buang air besar dan kecil. Kertas tisu dirancang untuk terurai dalam air sehingga tidak menyumbat saluran limbah. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tisu_toilet) Tisu toilet umumnya berbentuk gulungan berwarna putih, sering digunakan tidak hanya di toilet tapi juga untuk berbagai keperluan pengganti lap . Bahkan banyak dijumpai di warung makan di pinggir jalan seperti warung bakso, mie ayam, warung nasi goreng dan lainnya yang menggunakan tisu toilet untuk lap tangan dan mulut setelah makan atau minum,
Tisu toilet merupakan satu-satunya produk yang sebagian besar digunakan manusia sekali saja kemudian dibuang. Produk tersebut kurang berkelanjutan dan tidak ramah lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh WWF (World Wildlife Fund), untuk memb...

Muhammad Ivan (Juara 1 Article Contest HUT ke-1 RSUI)
2020-04-24
11246
Pembangunan manusia menjadi fokus pemerintah dalam RPJMN 2020-2024. Diharapkan segala program pemerintah baik pusat maupun daerah mampu menggenjot potensi modal manusia (human capital) hingga berkah bonus demografi termanisfestasi. Namun berkah tersebut terasa absurd, apabila kondisi kesehatan penduduk Indonesia justru kontras dengan prestasi yang dihasilkan pemerintah. Padahal secara ekonomi, kesehatan manusia baik sebagai warga negara maupun pekerja adalah hal penting untuk persaingan di tingkat global.
Fakta menunjukkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami double burden diseases, yaitu beban Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Penyakit Menular sekaligus. Dalam dua dekade terakhir telah terjadi transisi epidemiologis yang signifikan, yakni penyakit tidak menular telah menjadi beban utama, sementara beban penyakit menular masih berat juga. Inilah yang menjadi temuan background study RPJMN 2020-2024 di lingkungan strategis bidang kesehatan.
Ada diktum menarik yang disampaikan Prof. Arif Rahman, dosen UNJ beberapa belas tahun silam. Beliau pernah menunturkan dalam sebuah seminar pendidikan yang saya ikuti, bahwa menurutnya guru yang sehat lebih baik daripada guru yang pintar. Terkesan sederhana, namun benar. Guru sehat akan mengajar lebih optimal dan berenergi serta semangat menjalankan tugas mulia. Bagaimana mungkin membangun manusia, namun yang membangun maupun yang akan dibangun, lesu dan tak bersemangat.
Dalam penelitian Dyah Purnamasari yang dikutip dari Jurnal Acta Medica Indonesiana Volume 50 Nomor 4 (2018) dikemukakan bahwa angka kematian di Indonesia didominasi oleh PTM. Perubahan lingkungan, teknologi dan gaya hidup telah mengubah pola penyakit di Indonesia menjadi didominasi oleh PTM seperti diabetes melitus, penyakit jantung, dislipidemia, obesitas, penyakit ginjal, penyakit paru-paru, dan tumor.
Menurut data Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 dike...
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved