Artikel Kesehatan

Kehilangan Penciuman Tiba-tiba di Masa Pandemi? Jangan panik!

dr. Valensa Yosephi (Juara 2 Article Contest HUT Ke-2 RSUI)

2021-03-12

39670

Kehilangan Penciuman Tiba-tiba di Masa Pandemi? Jangan panik!

Salah satu pasien Covid-19 yang saya temui bercerita mengenai pengalamannya. “Waktu itu hidung saya rasanya kebas kemudian berair. Hidung juga terasa tersumbat dan suara bindeng. Makan jadi tidak terasa.” katanya dengan wajah sedih. Bayangkan Anda tidak dapat lagi merasakan harumnya kopi hangat setiap pagi ataupun nikmatnya soto saat makan siang. Hal ini ternyata membuat ia sangat frustasi. Tampaknya, teman saya bukan satu-satunya yang mengalami hal ini.

Tahukah Anda bahwa 47% pasien Covid-19 di dunia mengalami gangguan saat membaui dan mengecap makanan? Anosmia adalah hilangnya kemampuan indra penciuman untuk mengenali bau. Sebelum pandemi Covid-19, memang tidak banyak yang mengenal kata “anosmia” apalagi mengalaminya. Padahal, gangguan fungsi penciuman tidak identik dengan Covid-19. Banyak sebenarnya penyakit lain yang dapat menyebabkan berkurangnya atau bahkan hilangnya penciuman, seperti rinosinusitis, polip hidung, Alzheimer, Parkinson, trauma pada kepala, bahkan infeksi virus yang umum seperti influenza. Perbedaannya adalah anosmia pada Covid-19 muncul tiba- tiba, dapat muncul sendiri atau bersamaan dengan gejala Covid-19 lainnya, bersifat sementara, dan banyak terjadi pada orang muda dan wanita.

Selain anosmia, hiposmia dan disgeusia juga banyak dilaporkan. Hiposmia adalah berkurangnya sensitivitas indra penciuman untuk mengenali bau. Sedangkan, disgeusia adalah perubahan rasa pengecapan oleh lidah. Anosmia atau hiposmia biasanya disertai dengan disgeusia karena cara kita mempersepsikan rasa merupakan kombinasi dari bau, rasa, bahkan tekstur.

Pada penciuman normal, bau yang masuk ke hidung akan berikatan dengan protein yang mengikat bau. Bau ini kemudian menjadi sinyal kimiawi yang diterima oleh reseptor saraf penciuman. Sinyal kimiawi tersebut akan diteruskan oleh sel-sel saraf ke bagian otak yang kemudian menerjemahkan bau, apakah wangi, amis, atau busuk. Hingga saat ini, belum ditemukan secara ...

Bagaimana Penderita Covid-19 Melakukan Manajemen Stres dan Cemas?

Fasda Akhsanul (Juara 3 Article Contest HUT ke-2 RSUI)

2021-03-12

3591

Bagaimana Penderita Covid-19 Melakukan Manajemen Stres dan Cemas?

Sudah satu tahun lebih, SARS-CoV-2 atau Covid-19 mendominasi berita yang beredar di berbagai penjuru dunia. Seperti yang kita ketahui bahwa Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, Cina dan saat ini sudah 213 negara terkena Covid-19 termasuk Indonesia. Terhitung sejak 2 Maret 2020, penyebaran Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan drastis. Mengacu pada data perkembangan Covid-19 di Indonesia per 14 Februari 2021 jumlah terkonfirmasi positif mencapai 1.217.468 orang, 1.025.273 orang dinyatakan sembuh dan 32.656 meninggal dunia. Ayo tetap patuhi protokol kesehatan ya!

Situasi pandemi Covid-19 ini selain membawa perubahan besar dalam tatanan kehidupan sehari-hari seperti, kewajiban melakukan physical distancing, menggunakan masker, hingga PSBB juga membawa dampak dalam berbagai lini kehidupan masyarakat. Pandemi Covid-19 menyebabkan masalah gangguan psikologi terutama pada penderita Covid-19. Nguyen, et al. (2020) mengatakan bahwa penderita dengan gejala Covid-19 dan berusia ±60 tahun memiliki tingkat kemungkinan depresi dan kecemasan yang tinggi. Keharusan untuk melakukan isolasi dan stigma masyarakat tentang penderita Covid-19 akan semakin berdampak pada psikologi penderita. Menurut Mazza et.al (2020) depresi dan kecemasan yang ditimbulkan terhadap infeksi SARS-CoV-2 dapat disebabkan baik oleh respons kekebalan terhadap virus itu sendiri, atau oleh stres psikologis seperti isolasi sosial, dampak psikologis dari penyakit baru yang parah dan berpotensi fatal, kekhawatiran tentang menulari orang lain, dan stigma masyarakat.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak psikologi seperti stres dan cemas pada penderita Covid-19 yakni dengan teknik regulasi emosi, cognitive behavioral thecniques, dan relaksasi. Regulasi emosi bisa berupa penguatan emosi positif ataupun pengurangan emosi negatif. Emosi negatif yang kita miliki kita kelola dengan bijaksana menjadi pemikiran-pemikiran positif seperti “saya p...

The Art of Journaling for Mental Health

Pinta Kumbara, Amd.PRS (Finalis Lomba Artikel Hut RSUI Ke-2)

2021-03-11

8214

The Art of Journaling for Mental Health

Menulis jurnal adalah salah satu cara yang paling efektif untuk melepaskan stress. Kegiatan ini relatif tidak memakan biaya, menulis jurnal adalah hal yang mudah dilakukan bagi mayoritas orang. Meluapkan emosi secara jujur ke dalam secarik kertas jika dilakukan secara rutin dan berkala dapat membantu kita untuk dapat mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Ada banyak jenis jurnal yang dapat dicoba dan dijadikan rutinitas untuk menjaga kesehatan mental kita, yaitu:

1.      Menulis diary secara bebas

Tidak ada aturan yang harus diikuti, apapun hal yang kita rasakan bisa ditulis semaunya, hal-hal yang tidak dapat kita ungkapkan dan akan menjadi beban bila disimpan sendiri. Sedih? Marah? Kecewa? Patah hati? Semuanya dapat ditulis di jurnal, kata-kata yang tidak bisa kita sampaikan ke orang lain dapat kita luapkan di jurnal, setelah itu kita akan merasa lega. Tidak hanya itu, hal-hal yang menyenangkan dan ingin selalu kita kenang juga dapat ditulis di jurnal.

2.      Gratitude List

Banyaknya beban dalam hidup kadang membuat kita lupa akan bersyukur, sehingga kita butuh pengingat secara rutin untuk bisa merayakan hal-hal kecil yang berharga dalam hidup.

Mulailah dari menuliskan 3 hal yang kita syukuri setiap harinya. Contoh:

  • Nikmat kesehatan dari Yang Maha Kuasa
  • Dapat berjalan ke tempat tujuan dengan aman
  • Tiba-tiba ada teman yang datang dan memberikan coklat

Ada kalanya kita terlalu fokus dengan sesuatu yang berat dan menyulitkan dalam hidup, semoga adanya catatan-catatan kecil mengenai hal baik dalam hidup kita hari ini dapat membantu kita lebih semangat.

3.      Mood & Habit Tracker.

Melacak mood dan kebiasaan kita sehari-hari dapat dilakukan setiap bulannya. Mood dan habit tracker dapat dibuat secara berdampingan, dala...

Informasi Pasien dan Pengunjung

Ayo Terhubung Dengan Kami,

RSUI Logo

Jl. Prof. DR. Bahder Djohan, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved