
dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM dan Promosi Kesehatan
2026-03-11
169
Kasus penyakit ginjal pada usia muda kini semakin sering ditemukan. Jika dulu gangguan ginjal identik dengan usia lanjut, sekarang tidak sedikit pasien berusia 20–40 tahun yang sudah mengalami penurunan fungsi ginjal, bahkan harus menjalani cuci darah.
Salah satu kondisi yang paling banyak terjadi adalah Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Ini adalah kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap dan berlangsung lebih dari tiga bulan.
Menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya minimal.
Ginjal memiliki peran penting dalam tubuh, antara lain:
Ketika fungsi ginjal menurun, racun akan menumpuk dalam tubuh dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius.
1. Gaya Hidup Tidak Sehat
Perubahan pola hidup menjadi salah satu penyebab utama. Pola makan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh berkontribusi terhadap obesitas dan gangguan metabolik.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular di usia produktif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini berkaitan erat dengan risiko gangguan ginjal.
2. Diabetes dan Hipertensi di Usia Muda
Dua penyebab terbesar gagal ginjal adalah:
Menurut International Diabetes Federation (IDF), kasus diabetes pada usia produktif mengalami peningkatan global. Sementara itu, tekanan darah...

Promosi Kesehatan (Nida Nafilah)
2026-03-10
18536
Kanker paru merupakan salah satu penyakit tidak menular yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala khas pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru terdiagnosis ketika kanker telah berkembang ke stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih terbatas.
Menurut data World Health Organization (WHO), kanker paru menyebabkan sekitar 1,8 juta kematian setiap tahun secara global. Di Indonesia, kanker paru juga menjadi penyebab utama kematian akibat kanker, terutama pada laki-laki. Sebagian besar pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.
Fakta ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini kanker paru agar penyakit ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal.
Kanker paru adalah kondisi ketika terjadi pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali pada jaringan paru. Sel kanker ini dapat menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, dan hati apabila tidak ditangani dengan tepat. Secara umum, kanker paru terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
Kanker paru bukan sel kecil (non-small cell lung cancer/NSCLC)
NSCLC merupakan jenis kanker paru yang paling sering ditemukan. Jenis ini cenderung tumbuh dan berkembang lebih lambat dibandingkan jenis lainnya
Kanker paru sel kecil (small cell lung cancer/SCLC).
SCLC lebih jarang ditemukan, tetapi bersifat lebih agresif dan berkembang dengan cepat, seringkali sudah menyebar ketika didiagnosis
Merokok merupakan faktor resiko utama kanker paru. Namun, kanker paru tidak hanya terjadi pada perokok aktif. Beberapa faktor lain jug...

Promosi Kesehatan (Alya Dwi Rahmadani)
2026-03-05
19704
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim (serviks), bagian bawah rahim yang terhubung dengan vagina. Secara global, kanker serviks merupakan kanker terbanyak keempat pada perempuan.
Sebagian besar kasus dan kematian akibat kanker serviks terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Hal ini mencerminkan masih adanya kesenjangan dalam akses terhadap:
Faktor sosial, ekonomi, serta kondisi kesehatan tertentu seperti infeksi HIV juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.
Hampir seluruh kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), yaitu virus yang sangat umum dan ditularkan melalui kontak seksual.
Sebagian besar infeksi HPV dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, jika infeksi menetap, terutama oleh tipe HPV berisiko tinggi, dapat menyebabkan perubahan sel abnormal pada leher rahim. Perubahan ini berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan berpotensi menjadi kanker.
Pada tahap awal, kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala. Karena itu, banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
Jika mengalami gejala tersebut, segera lakukan pemeriksaan medis untuk evaluasi lebih lanjut.

dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM dan Promosi Kesehatan
2026-03-11
169
Kasus penyakit ginjal pada usia muda kini semakin sering ditemukan. Jika dulu gangguan ginjal identik dengan usia lanjut, sekarang tidak sedikit pasien berusia 20–40 tahun yang sudah mengalami penurunan fungsi ginjal, bahkan harus menjalani cuci darah.
Salah satu kondisi yang paling banyak terjadi adalah Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Ini adalah kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap dan berlangsung lebih dari tiga bulan.
Menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya minimal.
Ginjal memiliki peran penting dalam tubuh, antara lain:
Ketika fungsi ginjal menurun, racun akan menumpuk dalam tubuh dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius.
1. Gaya Hidup Tidak Sehat
Perubahan pola hidup menjadi salah satu penyebab utama. Pola makan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh berkontribusi terhadap obesitas dan gangguan metabolik.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular di usia produktif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini berkaitan erat dengan risiko gangguan ginjal.
2. Diabetes dan Hipertensi di Usia Muda
Dua penyebab terbesar gagal ginjal adalah:
Menurut International Diabetes Federation (IDF), kasus diabetes pada usia produktif mengalami peningkatan global. Sementara itu, tekanan darah...

Promosi Kesehatan (Nida Nafilah)
2026-03-10
18536
Kanker paru merupakan salah satu penyakit tidak menular yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala khas pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru terdiagnosis ketika kanker telah berkembang ke stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih terbatas.
Menurut data World Health Organization (WHO), kanker paru menyebabkan sekitar 1,8 juta kematian setiap tahun secara global. Di Indonesia, kanker paru juga menjadi penyebab utama kematian akibat kanker, terutama pada laki-laki. Sebagian besar pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.
Fakta ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko, pencegahan, serta deteksi dini kanker paru agar penyakit ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal.
Kanker paru adalah kondisi ketika terjadi pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali pada jaringan paru. Sel kanker ini dapat menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, dan hati apabila tidak ditangani dengan tepat. Secara umum, kanker paru terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
Kanker paru bukan sel kecil (non-small cell lung cancer/NSCLC)
NSCLC merupakan jenis kanker paru yang paling sering ditemukan. Jenis ini cenderung tumbuh dan berkembang lebih lambat dibandingkan jenis lainnya
Kanker paru sel kecil (small cell lung cancer/SCLC).
SCLC lebih jarang ditemukan, tetapi bersifat lebih agresif dan berkembang dengan cepat, seringkali sudah menyebar ketika didiagnosis
Merokok merupakan faktor resiko utama kanker paru. Namun, kanker paru tidak hanya terjadi pada perokok aktif. Beberapa faktor lain jug...

Promosi Kesehatan (Alya Dwi Rahmadani)
2026-03-05
19704
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim (serviks), bagian bawah rahim yang terhubung dengan vagina. Secara global, kanker serviks merupakan kanker terbanyak keempat pada perempuan.
Sebagian besar kasus dan kematian akibat kanker serviks terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Hal ini mencerminkan masih adanya kesenjangan dalam akses terhadap:
Faktor sosial, ekonomi, serta kondisi kesehatan tertentu seperti infeksi HIV juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.
Hampir seluruh kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), yaitu virus yang sangat umum dan ditularkan melalui kontak seksual.
Sebagian besar infeksi HPV dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, jika infeksi menetap, terutama oleh tipe HPV berisiko tinggi, dapat menyebabkan perubahan sel abnormal pada leher rahim. Perubahan ini berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan berpotensi menjadi kanker.
Pada tahap awal, kanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala. Karena itu, banyak kasus baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
Jika mengalami gejala tersebut, segera lakukan pemeriksaan medis untuk evaluasi lebih lanjut.
Tentang Kami
Informasi Pasien dan Pengunjung
© Copyright 2025 | Rumah Sakit Universitas Indonesia. All Rights Reserved